Rabu, 28 Mei 2014
Etika da'i menurut surah fushsilat ayat 33-39, surah Al-Mu'minun ayat 30-44, surah As-Shof
Berdakwah merupakan salah satu kegiatan yang sangat mulia di dalam islam, dakwah adalah sebuah kegiatan mengajak manusia ke jalan yang benar yaitu menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, tentunya kegiatan dakwah ini sangat besar manfaatnya bagi kemaslahatan umat islam sehingga dakwah ini sangat dianjurkan bagi setiap muslim, hal ini sejalan dengan perintah Allah di dalam Al-Qur’an surah ali-imran ayat 104 yang berbunyi :
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)
Dari ayat di atas kita dapat menangkap suatu maksud yaitu anjuran Allah kepada kaum muslimin untuk berdakwah mengajak manusia kepada kebaikan dan tentunya Allah sudah mempersiapkan bagi mereka yang mengikhlaskan dirinya untuk berdakwah sebuah ganjaran yang besar dengan menyebut mereka yang mau berdakwah sebagai orang-orang yang beruntung.
Tugas dakwah yang diemban seorang muslim tentunya bukanlah tugas yang ringan dan bisa dianggap enteng. Tugas dakwah ini memerlukan pengorbanan yang besar dalam segala hal baik harta, tenaga, fikiran bahkan taruhan nyawa, sehingga tidak sembarang orang mampu untuk berdakwah, diperlukan syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi oleh seseorang agar bisa menjadi da’i yang baik dan benar, diantara syarat-syaratnya adalah orang tersebut harus beretika dengan berbagai etika da’i yang diajarkan di dalam Al-Qur’an sehingga dia mampu memenuhi klasifikasi seorang da’i yang baik dan benar.
Berikut ini saya akan menjelaskan beberapa etika seorang da’i yang tersirat pada beberapa ayat dalam Al-Quran.
1. Etika yang pertama adalah yang terdapat di dalam surah Fushilat ayat 33-39 yang berbunyi :
وَمَنۡ اَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِىۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ ﴿۳۳﴾
وَلَا تَسۡتَوِى الۡحَسَنَةُ وَ لَا السَّيِّئَةُ ؕ اِدۡفَعۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِىۡ بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِىٌّ حَمِيۡمٌ ﴿۳۴﴾وَمَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا الَّذِيۡنَ صَبَرُوۡاۚ وَمَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا ذُوۡ حَظٍّ عَظِيۡمٍ ﴿۳۵﴾وَاِمَّا يَنۡزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰهِؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ ﴿۳۶﴾وَمِنۡ اٰيٰتِهِ الَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُؕ لَا تَسۡجُدُوۡا لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَاسۡجُدُوۡا لِلّٰهِ الَّذِىۡ خَلَقَهُنَّ اِنۡ كُنۡتُمۡ اِيَّاهُ تَعۡبُدُوۡنَ ﴿۳۷﴾فَاِنِ اسۡتَكۡبَرُوۡا فَالَّذِيۡنَ عِنۡدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُوۡنَ لَهٗ بِالَّيۡلِ وَالنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔـمُوۡنَ۩ ﴿۳۸﴾وَمِنۡ اٰيٰتِهٖۤ اَنَّكَ تَرَى الۡاَرۡضَ خَاشِعَةً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَيۡهَا الۡمَآءَ اهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡؕ اِنَّ الَّذِىۡۤ اَحۡيَاهَا لَمُحۡىِ الۡمَوۡتٰى ؕ اِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ ﴿۳۹﴾
Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(33)
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.(34)
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.(35)
Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(36)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.(37)
Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.(38)
Dan di antara tanda-tanda-Nya bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.(39)
Tafsir ayat :
033. (Siapakah yang lebih baik perkataannya) maksudnya, tiada seorang pun yang lebih baik perkataannya (daripada seorang yang menyeru kepada Allah) yakni mentauhidkan-Nya (mengerjakan amal yang saleh dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?")
Itulah ungkapan dakwah yang merupakan ungkapan terbaik yang diucapkan di bumi yang dinaikkan ke langit bersama perkataan baik lainnya. Namun, hendaklah perkataan ini disertai dengan amal saleh sebagai pembuktiannya dan disertai dengan penyerahan diri kepada Allah. Maka, dakwah itu hanya semata-mata karena Allah. Juru dakwah ataupun rasul tidak memiliki apapun kecuali sekedar menyampaikan.
Setelah itu, mungkin dia menerima keberpalingan, prilaku buruk, dan keingkaran sebagai imbalan atas ucapannya, lalu dia membalasnya dengan kebaikan. Maka, dia berada pada tempat yang tinggi sedangkan yang lainnya yang membalas dengan keburukan berada di tempat yang rendah “tidaklah sama kebaikan dan kejahatan,,,,,,,” Dia tidak boleh membalasnya dengan keburukan, karna kebaikan tidak sama dampaknya dengan keburukan, demikian pula nilainya. Kesabaran tidak sama dengan toleransi. Dia tidak boleh berkeinginan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jika demikian (membalas kejahatan dengan kebaikan), maka nafsu binal akan terseret kepada ketenangan dan kepercayaan. Sehingga permusuhan menjdi pertemanan dan kekerasan berubah menjadi kelembutan, 034. (Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan) dalam tingkatan rinciannya, karena sebagian daripada keduanya berada di atas sebagian yang lain. (Tolaklah) kejahatan itu (dengan cara) yakni dengan perbuatan (yang lebih baik) seperti marah, imbangilah dengan sabar, bodoh imbangilah dengan santunan, dan perbuatan jahat imbangilah dengan lapang dada atau pemaaf (maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia) maka jadilah yang dulunya musuhmu kini menjadi teman sejawat dalam hal saling kasih mengasihi, jika kamu mempunyai sikap seperti tersebut. Lafal Al Ladzii Mubtada, dan Ka-annahu adalah Khabarnya, lafal Idzaa menjadi Zharaf bagi makna Tasybih. Prinsip ini terbukti kebenarannya dalam realita. Kobaran nafsu berubah menjadi kelembutan, kemarahan menjadi ketentraman, dan kekerasan menjadi rasa malu. Hal itu karena dai berpegan kepada kalimat yang baik, cara yang tenang, dan karakter yang lembut dalam menhadapi kobaran kemarahan dan kebinalan.
Kalaulah perbuatan mereka dibalas deangan pekerjaan yang sama, niscaya kemarahannya semakin berkobar, semakin keras, binal, menolak, dan akhirnya hilang rasa malu darin dirinya, lepas kendali dan merasa bangga dengan berbuat dosa.
Namun, toleransi tersebut memerlukan jiwa besar, terutama tatkala dia mampu berbuat buruk dan membalasnya. Kemampuan ini amat penting bagi adanya dampak toleransi sehingga kebaikan terhadap pelaku keburukan tidak dianggap sebagai kelemahan. Jika dia merasa lemah, maka toleransinya tidak bernilai dan tidak memiliki dampak kebaikan sedikitpun
Toleransi ini pun terbatas pula pada kondisi keburukan pribadi, bukan permusuhan terhadap aqidah dan fitnah di antara kaum muslimin. Jika yang terjadi adalah permusuhan dan fitnah, dia perlu melawannya dengan segala cara atau dia bersabar hingga Allah memutuskan perkaranya.
Inilah suatu pringkat, yaitu peringkat yaitu pembalasan keburukan dengan kebaikan. Toleransi terhadap dorongan kemarahan dan kedengkian serta sikap proporsional dalam menetapkan kapan kita harus toleran dan kapan membalas dengan kebaikan.... merupakan derajat yang agung yang tidak dapat dilakukan oleh semua manusia. Pringkat ini memerlukan kesabaran. Peringkat ini pun merupakan perolehan yang dianugrahkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang berusaha, sehingga mereka berhak menerimanya, 035. (Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan) tidak akan diberikan (melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan) yakni pahala (yang besar.) Ia merupakan derajat yang tinggi sehingga mencapai batas seperti yang tampak pada diri Rasulullah dimana beliau tidak pernah marah untuk membela dirinya sendiri. Apabila beliau marah karena Allah, tiada seorang pun yang dapat meredakannya. Maka, dikatakan kepadanya dan kepada setiap da’i
036. (Dan jika) lafal Immaa ini pada asalnya terdiri dari In Syarthiyyah dan Maa Zaidah yang kemudian keduanya diidgamkan menjadi satu sehingga jadilah Immaa (setan mengganggumu dengan suatu gangguan) yakni jika setan mengalihkan perhatianmu dari pekerti yang baik kepada pekerti yang buruk (maka mohonlah perlindungan kepada Allah) lafal ayat ini menjadi Jawab Syarat, sedangkan Jawab Amar tidak disebutkan, yakni niscaya Dia akan menolak gangguan setan itu dalam dirimu. (Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar) semua percakapan (lagi Maha Mengetahui) semua perbuatan. Kadang-kadang kemarahaan itu mengganggu. Tiba-tiba dia tersadar bahwa dirinya kurang sabar dalam menghadapi kesulitan, atau merasa sulit bersikap toleran. Pada saat demikian berlindunglah kepada Allah dari setan yang dikutuk. Permohonan ini dapat menguatkannya dalam berusaha memanfaatkan daya marah dan terlepas dari celahnya. 037. (Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya) yang telah menciptakan keempat tanda-tanda tersebut (jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah.) 038. (Jika mereka menyombongkan diri) tidak mau bersujud atau menyembah kepada Allah semata (maka mereka yang di sisi Rabbmu) yakni malaikat-malaikat (bertasbih) artinya, salat (kepada-Nya di malam dan siang hari, sedangkan mereka tidak jemu-jemu) tidak pernah merasa jemu bertasbih. 039. (Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus) yaitu tidak ada tumbuh-tumbuhan padanya (maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak) berubah (dan subur) yakni menjadi subur dan rimbun penuh dengan tetumbuhan. (Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.)
Dari tafsir ayat di atas kita dapat menemukan beberapa etika seorang da’i yang terkandung di dalamnya di antaranya adalah :
- Seorang da’i dalam berdakwah harus selalu berserah diri dan pasrah kepada Allah SWT, pasrah atas semua ketetapan yang telah ditetapkan Allah kepadanya sehingga ketika dia menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dan penolakan dari para mad’unya ia mampu menerimanya dengan lapang dada, karena ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa pun kecuali hanya menyampaikan. Perkara mad’u mau beriman atau tidak itu adalah urusan Allah karena Allah yang memberi petunjuk bagi hamba-hambaNya yang Ia kehendaki.
- Seorang da’i dituntut memiliki sifat sabar, yaitu sabar terhadap segala rintangan dalam berdakwah, bersabar terhadap semua tanggapan para mad’u baik yang berupa luapan kemarahan dan kebencian atau kekerasan sebagai bentuk penolakan. Sabar yang dimaksud disini juga berarti tidak serta merta membalas kemarahan dengan kemarahan atau perlakuan buruk dengan perlakuan buruk lainnya, tentunya sabar ini juga ada tempatnya yaitu apabila yang menjadi sasaran keburukan para penentang dakwah adalah diri sendiri pribadi, bila mana yg menjadi sasaran keburukan para mad’u yang menentang adalah agama Islam itu sendiri misal mereka mencaci maki Allah dan Rasulnya maka kita diharuskan untuk marah dan melawan mereka semampu kita sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
- Etika seorang da’i lainnya yang tersurat dalam ayat-ayat di atas adalah berusaha membalas keburukan dengan kebaikan yang tentunya hal ini harus diikuti dengan sifat besar hati atau orang jawa bilang sifat “leghowo” yang mana tentunya Etika yang satu ini amat berat dilakukan dalam kenyataannya, kita manusia selalu cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan yang lebih dahsyat yang mana hal tersebut tentunya akan terus berlarut-larut tak berkesudahan karena kita akan selalu merasa diliputi dendam yang membara. Kita jarang mau berfikir betapa indahnya bila kita bisa berbesar hati membalas keburukan setiap orang yang amat sangat membenci kita dengan kebaikan dan penuh rasa cinta, tentunya hal itu akan memberikan efek yang posif bagi mereka sebagaimana yang di sebutkan dalam ayat “maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia” sungguh luar biasa bila seorang da’i mampu menerapkan etika ini dalam berdakwah maka sudah barang tentu dakwahnya akan mudah diterima oleh hati-hati para mad’u yang meskipun sekeras baja pasti akan luluh olehnya dan efek dakwahnya akan sangat cetar membahana.
- Etika yang selanjutnya yang harus dimilki oleh seorang da’i adalah senantiasa meminta perlindungan kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk baik dari kalangan jin dan kalangan manusia yang mana bisa dipastikan bahwa para syetan tidak akan pernah merasa tenang dengan berbagai kegiatan dakwah seorang da’i dan ia akan berusaha menghalang-halangi bahkan menghentikan sama sekali dakwah tersebut dengan menghalalkan segala cara, salah satunya sebagaimana disebutkan dalam tafsir adalah dengan menghembuskan rasa marah kepada da’i yaitu ketika seorang da’i mendapat perlakuan yang buruk dari para mad’unya dan ketika da’i tersebut membiarkan rasa marahnya membara dan tidak segera berlindung kepada Allah Maka syetan mengendalikannya untuk mengikuti hawa nafsunya dengan membalas perlakuan buruk mad’u dengan perlakuan yang lebih buruk maka disitulah awal dari kegagalan dakwah da’i tersebut.
Etika etika di atas adalah beberapa etika yang tersurat dan tersirat dari al-qur’an surah Fushsilat ayat 33-39 yang mampu saya indra. Selanjutnya saya akan membahas etika seorang da’i yang terkandung dalam surah As-Shoff ayat 2-3 yang berbunyi :
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۲﴾ كَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰهِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۳﴾
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Tafsir ayat :
Ashbabun nuzul ayat ini sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu katsir dalam kitab tafsirnya bahwa jumhur ulama memposisikan ayat ini, bahwa iya diturunkan ketika orang-orang beriman banyak yang merindukan kewajiban jihad atas mereka, namun ketika kewajiban itu turun, ada sebagian yang berpaling. Sesungguhnya ayat di atas diawali dengan celaan atas kasus-kasus yang terjadi,
“(Hai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan) sewaktu kalian meminta berjihad (apa yang tidak kalian perbuat) karena ternyata kalian mengalami kekalahan atau mundur dalam perang Uhud.
Setelah itu langsung diikuti dengan pengingkaran terhadap perlakuan demikian dengan bentuk ungkapan yang menjelaskan tentang kerasnya dan besarnya pengingkaran itu,
“(Amat besar) yakni besar sekali (kebencian) lafal maqtan berfungsi menjadi tamyiz (di sisi Allah bahwa kalian mengatakan) lafal an taquuluu menjadi fa'il dari lafal kabura (apa-apa yang tiada kalian kerjakan).
Kebencian yang besar “di sisi Allah” adalah puncak dari kebencian dan pengingkaran yang paling keras. Hal ini merupakan puncak penghinaan dan celaan atas suatu urusan. Khususnya dalam nurani seorang mukmin yang dipanggil dan diseru dengan kehormatan iman, dan yang diserukan langsung oleh tuhannya yang dia beriman kepada-Nya.
Ayat ketiga mengisyaratkan tentang tema yang langsung di mana sebagian orang-orang yang beriman mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan,...yaitu jihad. Ia telah ditetapkan sebagai amal yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya.
Meskipun ayat diatas diturunkan sebagai peringatan bagi sebagian kaum muslimin yang tidak mengerjakan apa yang dikatakannya, namun secara umum dari ayat diatas kita dapat menangkap suatu maksud yang berhubungan dengan etika seorang da’i, yaitu seyognya bagi da’i untuk mengerjakan apa-apa yang dikatakannya karena seorang da’i yang hanya bisa menyeru manusia untuk mengerjakan sesuatu yang baik namun dirinya sendiri tidak mau mengerjakannya maka dirinya akan mendapatkan kemurkaan yan besar disisi Allah dan tentunya hal ini amat tercela. Seorang da’i yang mau mengerjakan apa yang ia dakwahkan atau yang ia katakan kepada mad’u maka dia telah memberikan contoh yang baik bagi mad’unya dan menjadikan imagenya di mata mad’u menjadi lebih baik dan hal ini akan memberikan dampak positif bagi kegiatan dakwahnya.
Ayat selanjutnya yang berkisah tentang etika seorang da’i adalah ayat Al-Qur’an surah Al-Mu’minun ayat 30-44 yang berbunyi :
اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ وَّاِنۡ كُنَّا لَمُبۡتَلِيۡنَ ﴿۳۰﴾ثُمَّ اَنۡشَاۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا اٰخَرِيۡنَ ۚ ﴿۳۱﴾فَاَرۡسَلۡنَا فِيۡهِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡهُمۡ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰهَ مَا لَـكُمۡ مِّنۡ اِلٰهٍ غَيۡرُهٗ ؕ اَفَلَا تَتَّقُوۡنَ﴿۳۲﴾وَقَالَ الۡمَلَاُ مِنۡ قَوۡمِهِ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا وَكَذَّبُوۡا بِلِقَآءِ الۡاٰخِرَةِ وَاَتۡرَفۡنٰهُمۡ فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ۙ مَا هٰذَاۤ اِلَّابَشَرٌ مِّثۡلُكُمۡ ۙ يَاۡكُلُ مِمَّا تَاۡكُلُوۡنَ مِنۡهُ وَيَشۡرَبُ مِمَّا تَشۡرَبُوۡنَ﴿۳۳﴾وَلَٮِٕنۡ اَطَعۡتُمۡ بَشَرًا مِّثۡلَـكُمۡ اِنَّكُمۡ اِذًا لَّخٰسِرُوۡنَۙ ﴿۳۴﴾اَيَعِدُكُمۡ اَنَّكُمۡ اِذَا مِتُّمۡ وَكُنۡتُمۡ تُرَابًا وَّعِظَامًا اَنَّكُمۡ مُّخۡرَجُوۡنَ﴿۳۵﴾هَيۡهَاتَ هَيۡهَاتَ لِمَا تُوۡعَدُوۡنَ﴿۳۶﴾اِنۡ هِىَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنۡيَا نَمُوۡتُ وَنَحۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوۡثِيۡنَ﴿۳۷﴾اِنۡ هُوَ اِلَّا رَجُلُ اۨفۡتَـرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا وَّمَا نَحۡنُ لَهٗ بِمُؤۡمِنِيۡنَ ﴿۳۸﴾قَالَ رَبِّ انْصُرۡنِىۡ بِمَا كَذَّبُوۡنِ ﴿۳۹﴾قَالَ عَمَّا قَلِيۡلٍ لَّيُصۡبِحُنَّ نٰدِمِيۡنَۚ ﴿۴۰﴾فَاَخَذَتۡهُمُ الصَّيۡحَةُ بِالۡحَـقِّ فَجَعَلۡنٰهُمۡ غُثَآءًۚ فَبُعۡدًا لِّـلۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَ ﴿۴۱﴾ثُمَّ اَنۡشَاۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِهِمۡ قُرُوۡنًا اٰخَرِيۡنَؕ ﴿۴۲﴾مَا تَسۡبِقُ مِنۡ اُمَّةٍ اَجَلَهَا وَمَا يَسۡتَـاۡخِرُوۡنَؕ ﴿۴۳﴾ثُمَّ اَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا تَتۡـرَا ؕ كُلَّ مَا جَآءَ اُمَّةً رَّسُوۡلُهَا كَذَّبُوۡهُ فَاَتۡبَـعۡنَا بَعۡـضَهُمۡ بَعۡـضًا وَّجَعَلۡنٰهُمۡ اَحَادِيۡثَ ۚ فَبُـعۡدًا لِّـقَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۴۴﴾
Artinya :
30. Sesungguhnya pada itu benar-benar terdapat beberapa tanda , dan sesungguhnya Kami menimpakan azab .
31. Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain .
32. Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri : "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa .
33. Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: " ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.
34. Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar orang-orang yang merugi.
35. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan ?,
36. jauh, jauh sekali apa yang diancamkan kepada kamu itu,
37. kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi,
38. Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya".
39. Rasul itu berdo'a: "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku."
40. Allah berfirman: "Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal."
41. Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.
42. Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain .
43. Tidak sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak mereka terlambat .
44. Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain . Dan Kami jadikan mereka buah tutur , maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.
Tafsir ayat :
030. (Sesungguhnya pada kejadian itu) kisah Nabi Nuh dan bahteranya serta dibinasakan-Nya orang-orang kafir (benar-benar terdapat beberapa tanda) yang menunjukkan kepada kekuasaan Allah swt. (dan sesungguhnya) huruf In di sini adalah bentuk Takhfif daripada Inna, sedangkan isimnya adalah Dhamir Sya'an, bentuk asalnya adalah Innahu yakni sesungguhnya hal itu (Kamilah yang mencoba mereka) menguji kaum Nuh dengan mengutus Nuh kepada mereka supaya Nuh memberi nasihat dan pelajaran kepada mereka.
Sesungguhnya pemaparan kisah-kisah da’i pada surah ini bukanlah dalam bentuk penyelidikan yang terperinci. Tujuan pokoknya hanyalah untuk menetapkan kalimat yang satu yang dibawa oleh semua rasul, dan pemaparan jawaban yang sama dari kaum mereka. Oleh karena itu diawali dengan menyinggung tentang Nuh untuk menentukan titik tolak pertama, kemudian berakhir di musa dan isa untuk menentukan titik terakhir sebelum datangnya risalah pamungkas terakhir.
031. (Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat) kaum (yang lain) mereka adalah kaum Ad.
032. (Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri) yaitu Nabi Hud ("Hendaklah) ia mengatakan kepada mereka (kalian menyembah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Mengapa kalian tidak bertakwa) takut kepada azab-Nya karenanya kalian harus beriman kepada-Nya.
033. (Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat) yakni tempat mereka kembali kelak (dan yang telah Kami mewahkan mereka) Kami berikan nikmat kepada mereka (dalam kehidupan di dunia, 'Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, dia makan dari apa yang kalian makan dan minum dari apa yang kalian minum').
034. (Dan) demi Allah (sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kalian) di dalam ayat ini terkandung makna Qasam atau sumpah dan Syarat, sedangkan Jawab dari Syarat tersebut terkandung pada ayat selanjutnya (niscaya bila demikian, kalian benar-benar) yakni jika kalian menaatinya (menjadi orang-orang yang merugi") mendapat kerugian.
035. ("Apakah ia menjanjikan kepada kalian, bahwa bila kalian telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang, kalian se
sungguhnya akan dikeluarkan dari kuburan kalian) lafal Mukhrajuuna merupakan Khabar dari Annakum yang pertama, sedangkan lafal Annakum yang kedua berfungsi mengukuhkan makna Annakum yang pertama tadi, disebutkan lagi karena panjangnya Fashl atau pemisah antara Khabar dan 'Amilnya.
036. (Jauh, jauh sekali) lafal Haihaata Haihaata adalah Isim Fi'il Madhi yang bermakna Mashdar, artinya jauh, jauh sekali dari kebenaran (apa yang diancamkan kepada kalian itu) yaitu dihidupkannya kembali kalian dari kuburan. Huruf Lam pada lafal Limaa Tuu'aduna adalah Lam Zaidah yang mengandung makna Bayan atau penjelasan.
037. (Tiada lain hal itu) yakni kehidupan yang sesungguhnya (hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati kemudian kita hidup) yaitu dengan hidupnya anak-anak kita (dan sekali-kali kita tidak akan dibangkitkan kembali).
038. (Ia tiada lain) Rasul itu (hanyalah seorang laki-laki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya") tidak akan percaya dengan adanya berbangkit sesudah mati.
039. (Rasul itu berdoa, "Ya Rabbku! Tolonglah aku karena mereka mendustakanku").
040. (Allah berfirman, "Dalam sedikit waktu lagi) sebentar lagi. Huruf Ma di sini adalah Zaidah (pasti mereka akan menjadi) akan menjadi orang-orang (yang menyesal") atas kekafiran dan kedustaan mereka.
041. (Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur) suara yang menandakan turunnya azab dan binasanya makhluk (dengan hak) maka matilah mereka (dan Kami jadikan mereka bagaikan tumbuh-tumbuhan yang kering) Kami jadikan mereka seperti tanaman yang kering atau mati (maka alangkah jauhnya) dari rahmat (bagi orang-orang yang zalim itu) yakni orang-orang yang mendustakan Rasul itu.
042. (Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat) kaum-kaum (yang lain).
043. (Tidak dapat sesuatu umat pun mendahului ajalnya) seumpamanya mereka mati sebelum ajal mereka (dan tidak dapat pula mereka terlambat) dari ajalnya itu. Lafal Yasta'khiruna dalam bentuk jamak dikaitkan kepada lafal Ummatin yang bentuknya muannats, hal ini memandang dari segi maknanya, karena ummatin berarti jamak.
044. (Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut) lafal Tatran dapat pula dibaca Tatraa tanpa memakai harakat Tanwin, artinya berturut-turut yang di antara kedua rasul terdapat pemisah jarak waktu yang cukup lama. (Manakala datang kepada suatu umat) lafal Jaa-a Ummatan dapat dibaca Jaa-a ummatan yakni dengan mentashhilkan huruf Hamzah yang kedua, sehingga ucapannya seolah-olah ada huruf Wau (Rasul, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain) Kami samakan mereka dengan umat-umat terdahulu dalam hal terbinasa (dan Kami jadikan mereka buah tutur manusia maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman).
Pelajaran etika seorang da’i yang dapat saya petik dari ayat diatas adalah diantaranya :
- Seorang dai wajib menjadikan tauhid sebagai seruan pertamanya kepada setiap mad’unya yang belum beriman, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh setiap nabi dan rasul dari yang pertama sampai dengan yang terakhir. Mereka semua bersatu dalam satu seruan yang agung yaitu “ Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada tuhan selain dari pada-Nya”.
- Hal yang kedua yang saya rasa adalah sebuah bentuk etika seorang da’i yang terkandung dalam ayat-ayat di atas adalah seorang da’i seyogyanya memulai berdakwah dari orang-orang terdekat dan lingkungan/kaumnya terlebih dahulu baru kemudian berdakwah kepada lingkungan/kaum yang lain, sebagaimana setiap rasul diutus dari suatu kaum untuk berdakwah dan memperbaiki kaumnya sendiri.
- Seorang da’i harus selalu berdo’a memohon pertolongan Allah dalam usaha dakwahnya karena dia tidak memiliki daya dan upaya untuk merubah atau memperbaiki suatu kaum tanpa ada pertolongan dari allah dan kemudahan dari-Nya, dan seyogyanya da’i tidak mudah berputus asa di dalam dakwahnya dan lantas mendo’akan kehancuran kepada kaumnya padahal masih ada kemungkinan dari kaumnya untuk menerima seruan dakwahnya dan dan dia pun belum benar-benar maksimal dalam berdakwah.
Kesimpulan dari paparan di atas adalah seorang da’i sudah seharusnya beretika sebagaimana –etika-etika seorang da’i yang baik yang telah diajarkan oleh al-Qur’an dan sunnah nabi. Pelajaran etika yang dapat dipetik dari beberapa ayat diatas sebagaimana yang mampu saya rangkum adalah sebagai berikut :
- Seorang da’i dalam berdakwah harus selalu berserah diri dan pasrah kepada Allah SWT (QS. Fushsilat : 33).
- Seorang da’i dituntut memiliki sifat sabar (QS. Fussilat : 35).
- Seorang da’i harus selalu berusaha membalas keburukan mad’unya dengan dengan kebaikan (QS. Fussilat : 34).
- Seorang da’i harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk (QS. Fussilat : 36).
- Seorang da’i harus mengerjakan apa-apa yang dikatakannya atau dengan kata lain ia harus mengamalkan terlebih dahulu apa yang akan ia dakwahkan baru mendakwahkannya kepada orang lain (QS. As-Shoff : 2-3).
- Seorang da’i wajib menjadikan Tauhid sebagai seruan pertamanya kepada mad’unya yang belum beriman (QS. Al-Mu’minuun : 32).
- Seorang da’i seyogyanya berdakwah pada orang-orang terdekat dan lingkungannya terlebih dahulu sebelum berdakwah kepada lingkungan yang lain (QS. Al-Mu’minuun : 32 ).
- Seorang da’i harus selalu berdo’a memohon pertolongan kepada Allah dalam usaha dakwahnya agar Allah memberikannya pertolongan dan kemudahan (QS. Al-Mu’minuun : 39).
Demikian etika seorang da’i yang berhasil saya rangkum dari ayat-ayat di atas yaitu Al-Qur’an surah Fussilat ayat 33-39, As-Shoff ayat 2-3, dan surah Al-Mu’minuun ayat 30-44. Semoga kita semua bisa memantapkan diri kita untuk mengkondisikan dan menghiasi diri kita dengan etika-etika di atas sehingga kita bisa menjadi seorang da’i yang baik, da’i yang dengan sangat gigih dan getolnya mendakwahkan dan menyebarkan syiar islam, da’i yang berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan penuh keikhlasan untuk meninggikan kalimat “laailaaha illallah”, da’i yang berani seperti singa namun lembut bagaikan sutra, di hormati oleh kawan dan di segani oleh lawan dan termasuk kedalam orang-orang yang allah kategorikan sebagai orang yang beruntung, AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIIN.
Sabtu, 10 Mei 2014
Dakwah Lewat Internet
BAB I
PENDAHULUAN
Di era Nabi Muhammad, masyarakat Arab kala itu tersusun atas klan-klan suku. Nabi Muhammad terlahir dan besar di tengah suku yang terpandang di jazirah Arab kala itu, yakni Quraisy. Islam datang sebagai agama yang “menuntun” masyarakat Arab agar melaksanakan perintah Tuhan Allah, serta meninggalkan sesembahan nenek moyang mereka yaitu dewi-dewi banatullah Al-Latta, Al-Uzza dan Al-Mannat. Perjuangan Nabi ini tidak mudah sebab setiap klan tidak menyetujui ajaran monotheisme yang diajarkan Nabi Muhammad. Dengan kegigihannya, Islam pun berkembang hingga saat ini.
Islamisasi masyarakat Arab yang dilanjutkan dengan Islamisasi masyarakat dunia ini dapat dilakukan dengan suatu aktivitas bernama dakwah atau lebih khususnya komunikasi dakwah. Dakwah pada zaman Nabi Muhammad dulu dengan dakwah pada masa modern seperti sekarang ini tentunya tidak berbeda dalam hal tujuannya yaitu mengesakan Allah dan melaksanakan perintahnya, namun dalam hal pelaksanaannya banyak bagian-bagian dan tata cara pelaksanaanya yang sudah sangat berkembang mengikuti kemajuan zaman, yang mana hal itu berdampak positif pada perkembangan islam di dunia modern ini. Perkembangan dakwah pada masa modern ini sudah merambah media informasi sebagai sarana penyebarannya, diantara sekian banyak media informasi salah satunya adalah media internet atau lebih khususnya social network atau media sosial yang hal itu semua akan dibahas dalam makalah ini disertai dengan pengertian komunikasi dakwah.
B. Rumusan Masalah
Rumusan yang menjadi master of question dalam makalah ini adalah :
1. Apakah komunikasi dakwah itu?
2. Bagaimanakah dakwah lewat internet atau sosial media?
3. Bagaimanakah strategi dakwah lewat internet atau sosial media?
C. Tujuan Makalah
Tujuan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kuliah Komunikasi dakwah yang diampu oleh ibu Anita Ariani, S.Pd.I. M.Pd.I. tentang bidang-bidang dakwah.
BAB II
PEMBAHASAN
1. pengertian komunikasi dakwah
A. Pengertian Komunikasi
Pengertian komunikasi menurut para ahli mengacu pada aktivitas interaksi manusia yang bisa terjadi secara langsung atau tidak langsung. Beberapa definisi komunikasi menurut para ahli berikut ini :
Everett M. Rogers, mengemukakan pendapatnya yaitu “Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerimaan atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”
Kemudian pendapat lain dari Rogers & O. Lawrence Kincaid “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.
Theodore M. Newcomb, “Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi,terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima”
Dari pendapat di atas, bisa di tarik kesimpulan bahwa komunikasi bisa terjadi karena adanya beberapa unsur yang ada untuk membangun sebuah komunikasi. Berikut ini unsur pembangun komunikasi :
• Sumber – Yaitu pembuat informasi atau pengirim informasi. Pada komunikasi antar manusia, sumber komunikasi bisa dari satu orang atau dari beberapa orang (kelompok) misalnya sebuah organisasi atau lembaga. Sumber komunikasi disebut juga komunikator.
• Penerima – pihak yang menjadi tujuan untuk dikirimi pesan oleh sumber (komunikator). Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih. Penerima disebut juga komunikan.
• Pesan – adalah informasi yang disampaikan oleh pengirim pesan kepada penerima (komunikan). Pesan tersebut bisa disampaikan dengan bertatap muka (langsung) atau melalui media komunikasi (tidak langsung).
• Media – alat yang digunakan dalam berkomunikasi untuk memindahkan pesan (informasi) dari sumber kepada penerima
• Efek – Pengaruh yang dipikirkan dan dirasakan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Yang kemudian akan mempengaruhi sikap seseorang dalam menelaah pesan.
• Umpan Balik – sebuah bentuk tanggapan balik dari penerima setelah memperoleh pesan yang diterima.
B. Fungsi Komunikasi
Pada unsur komunikasi yang telah dijelaskan bahwa pihak yang mengirim pesan kepada khalayak disebut komunikator. Sebagai pelaku dalam proses komunikasi, komunikator memegang peranan yang sangat penting terutama dalam mengendalikan jalannya komunikasi. Sehingga pesan tersebut diterima oleh penerima (komunikan) secara baik.
Berikut ini beberapa fungsi komunikasi dalam kehidupan sehari-hari tersebut menurut para ahli :
• Menurut Thomas M. Scheidel, “Kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas-diri, untuk membangun kontak social dengan orang di sekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan”
• Rudolf F. Verderber, “Komunikasi mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi social, yakni untuk tujuan kesenangan, untuk menunjukan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan. Kedua, fungsi pengambilan keputusan, yakni memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada saat tertentu.”
A. Pengertian Dakwah
Dakwah menurut etimologi (bahasa) berasal dari kata bahasa Arab : da’a – yad’u – da’watan yang berarti mengajak, menyeru, dan memanggil. Di antara makna dakwah secara bahasa adalah:
• An-Nida artinya memanggil; da’a filanun Ika fulanah, artinya si fulan mengundang fulanah
• Menyeru, ad-du’a ila syai’i, artinya menyeru dan mendorong pada sesuatu.
Dalam dunia dakwah, orang yang berdakwah biasa disebut Da’i dan orang yang menerima dakwah atau orang yang didakwahi disebut dengan Mad’u.
Dalam pengertian istilah dakwah diartikan sebagai berikut:
1. Prof. Toha Yaahya Oemar menyatakan bahwa dakwah Islam sebagai upaya mengajak umat dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan di dunia dan akhirat.
2. Syaikh Ali Makhfudz, dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin memberikan definisi dakwah sebagai berikut: dakwah Islam yaitu; mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk (hidayah), menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
3. Hamzah Ya’qub mengatakan bahwa dakwah adalah mengajak umat manusia dengan hikmah (kebijaksanaan) untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
4. Menurut Prof Dr. Hamka dakwah adalah seruan panggilan untuk menganut suatu pendirian yang ada dasarnya berkonotasi positif dengan substansi terletak pada aktivitas yang memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar.
5. Syaikh Muhammad Abduh mengatakan bahwa dakwah adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran adalah fardlu yang diwajibkan kepada setiap muslim.
Dari beberapa definisi di atas secara singkat dapat disimpulkan bahwa dakwah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh informan (da’i) untuk menyampaikan informasi kepada pendengar (mad’u) mengenai kebaikan dan mencegah keburukan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan menyeru, mengajak atau kegiatan persuasif lainnya.
Juga dari beberapa definisi di atas dan halaman-halam sebelumnya yang membahas tentang komunikasi dan tentang dakwah maka kita dapat menyimpulkan bahwa komunasi dakwah adalah komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.
Dakwah menjadikan perilaku Muslim dalam menjalankan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin yang harus didakwahkan kepada seluruh manusia, yang dalam prosesnya melibatkan unsur: da’i (subyek), maaddah (materi),thoriqoh (metode), wasilah (media), dan mad’u (objek) dalam mencapaimaqashid (tujuan) dakwah yang melekat dengan tujuan Islam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Islam sebagai agama merupakan penerus dari risalah-risalah yang dibawa nabi terdahulu, terutama agama-agama samawi seperti Yahudi dan Nasrani. Islam diturunkan karena terjadinya distorsi ajaran agama, baik karena hilangnya sumber ajaran agama sebelumnya ataupun pengubahan yang dilakukan pengikutnya. Dalam agama Nasrani misalnya, hingga saat ini belum ditemukan kitab suci yang asli.
Karena dakwah merupakan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah tidak selalu berkisar pada permasalahan agama seperti pengajian atau kegiatan yang dianggap sebagai kegiatan keagamaan lainnya. Dakwah juga bisa mencakup hal-hal keduniaan selama hal tersebut berorientasi kepada akhirat dan hal tersebut bisa menjadi sarana yang baik untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Salah satu hal tersebut adalah internet atau social network atau media social.
2. Dakwah lewat internet atau media social
a. Fakta Penggunaan FB Dan Twitter Di Indonesia.
Penggunaan internet atau khususnya sosial media yang paling popular di Indonesia yaitu Facebook dan Twitter.
Pengguna FB di Indonesia sekitar 42.000.000 yang membuat Indonesia berada di urutan nomor empat dunia setelah Amerika Serikat, Brazil, dan India. Padahal kebanyak isi penggunanya cuma update status alay, curhat galau, kasi jempol, upload foto narsis, pedekate sama buka notif. Gitu-gitu doang. Tapi betah ya? Karena tiap hari itu ada info baru yang bertambah.
Sedangkan untuk menduduki social media ke-2 terbanyak penggunanya di Indonesia dengan 29.000.000 orang yang menjadikan Indonesia menjadi peringkat 5 pengguna twitter terbanyak di dunia.
b. Mengapa Sosmed (sosial media)?
1. Tidak butuh biaya mahal. Cukup modal duit pulsa / modem saja. Apalagi biaya internet di Indonesia sudah semakin terjangkau. Ditambah banyaknya lokasi di Indonesia yang menyediakan internet gratis dengan koeneksi wifi.
2. Penyebaran informasi yang sangat cepat. Kecepatan penyebarannya sangat cepat. Sekali melakukan postingan, dalam hitungan menit bisa menjangkau puluhan bahkan ribuan orang.
3. Indonesia pengakses terbesar di dunia. Lebih lanjut menurut APJI (sosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), angka pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia akan meningkat sekitar 30 persen atau mencapai 82 juta pengguna di tahun 2013, dan diasumsikan akan bertambah terus menjadi 107 juta pada 2014 dan 139 juta atau 50 persen total populasi pada 2015.
4. Bisa diakses di mana aja dan kapan saja.
5. Bisa menggiring mindset publik. Mana sih media yang netral? Ya cuma RRI dan TVRI. Itu pengelolanya pemerintah. Metrotv punya Surya Paloh, MNC (TPI, Global, RCTI) punya Hari Tanoe, TV One dan ANTV punya Bakrie, Transcorp (TransTV dan Trans7) punya Chairul Tandjung. Maka kita harus bisa memilah-milah informasi yang ada. Ingat fenomena suatu yang ketuanya terseret kasus Korupsi Import Daging Sapi? Ramai-ramai para kadernya berjuang menggiring opini pubili melalui social media sehinga secara tidak langsung terjadi perang antara media elektronik vs social media. Bahkan,Pemilukada di beberapa daerah pun sudah merambah berkampanye melalui social media.
6. Para pakar dan ulama yang berada dibalik media dakwah via internet bisa lebih konsentrasi dalam menyikapi setiap wacana dan peristiwa yang menuntut status hukum syar’i.
7. Dakwah melalui internet atau medsos telah menjadi salah satu pilihan masyarakat. Berbagai situs mereka bebas memilih materi dakwah yang mereka sukai, dengan demikian pemaksaaan kehendak bisa dihindari.
8. Cara penyampaian yang variatif telah membuat dakwah Islamiyah via internet atau medsos bisa menjangkau segmen yang luas.
9. Media cetak terbatas pada tulisan dan gambar. Media elektronik terbatas di audio dan gambar. Internet sosial media bisa mengkombinasikan semuanya baik tulisan, gambar, suara, maupun video.
c. Tren informasi sekarang sudah terbalik
Kalo dulu dari TV masuk radio baru masuk ke media cetak. Sekarang awalnya di media online diblow-up di radio, setelah itu masuk media cetak, dan puncaknya di TV.
d. Fenomena Internet atau Sosial Media di Dunia Dakwah
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. 3:104)
Media internet terutama sosial media adalah hal yang tak dapat kita pungkiri keberadaannya saat ini. Agar dakwah kita dapat berkembang jangkauannya, tentunya harus mengikuti jaman, bukan? Facebook, Twitter, Pinterest, dan Instagram tentunya adalah beberapa contoh sosial media yang banyak digunakan oleh para pengguna internet dewasa ini.
Awalnya, Internet lebih khususnya sosial media hanya digunakan untuk para penyuka Internet saja dan tak digunakan untuk urusan dakwah. Namun sekarang, para pelaku dakwah, gak Cuma yang bergelar ustadz atau da’I juga sudah mulai mempertimbangkan internet terutama sosial media.
Internet sosial media juga dapat mempertemukan kita dengan orang-orang yang di kehidupan nyata sulit ditemui, misalnya seorang dari perusahaan besar, atau orang-orang ternama. Mulailah dengan follow atau menambahkan mereka sebagai teman. Retweet atau berbagi di wall mereka. Sampaikan dakwah kita ke mereka.
Lewat sosial media, kita juga dapat melakukan sebuah perhelatan baik secara online maupun offline. Contoh perhelatan online misalnya dengan ‘Chatting Bareng’, tanya jawab via twitter, atau dauroh kajian online. Atau kita dapat membuat acara kajian di suatu tempat dan kita dapat mempromosikan acara tersebut lewat sosial media.
e. Strategi Berdakwah Melalui Internet
Perkataan strategi pada mulanya dihubungkan dengan operasi militer dalam skala besar-besaran. Oleh sebab itu, strategi dapat berarti “ilmu tentang perencanaan dan pengarahan operasi militer secara besar-besaran”. Di samping itu dapat pula berarti “kemampuan yang terampil dalam menangani dan merencanakan sesuatu”. Sedangkan tujuan suatu strategi ialah untuk merebut kemenangan atau meraih suatu hasil yang diinginkan.Strategi dakwah adalah merupakan metode, siasat, taktik atau manuver yang dipergunakan dalam aktivitas atau kegiatan dakwah, yang peranannya sangat menentukan sekali dalam proses pencapaian tujuan dakwah.
Seiring dengan berkembangnya zaman, globalisasi sebagai fenomena terbuka luasnya ruang dan waktu bukan hanya sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditampik, melainkan juga menguntungkan bagi interaksi peradaban seluruh umat manusia. Kemunculannya dengan kemajuan peradaban manusia menjadikan globalisasi sebagai sebuah ideologi bagi masyarakat masa kini yang juga disebut sebagai masyarakat informasi.
Untuk dapat mencapai tujuan yang tepat dan mendapatkan kebehasilan, maka seorang da’i harus pandai dalam memilih media dakwah. Masyarakat masa kini adalah masyarakat plural yang berkembang dengan berbagai kebutuhan yang praktis, sehingga kecanggihan teknologi mau tidak mau akan menghadapi dan menjadi idaman dalam kehidupan masyarakat.
Kecanggihan teknologi telah membuka sekat dan menghilangkan batas ruang dan waktu, sehingga memilih dan menggunakan media dakwah yang tepat sudah merupakan keharusan dan tuntutan zaman. Dengan demikian, media dakwah merupakan wasilah bagi keberhasilan dakwah yang dilakukan.
Pendakwah di zaman ini tidak lagi mapan dengan hanya kebolehan berpidato atau berceramah. Tetapi pendakwah zaman ini adalah penyelidik dan penggerak kepada penyelesaian masalah semasa secara praktis. Artinya dalam posisi ini mempunyai kesadaran dan telah menempatkan pada posisi startegis dengan menghadirkan dan mengikutsertakan teknologi informasi sebagai mitranya dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Keberadaan internet sebagai media dakwah sudah bukan lagi pada tataran wacana lagi. Seharusnya para ulama, da’i, dan para pemimpin-pemimpin Islam sudah menyadari dan segera melakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga dan mentarbiyah generasi-generasi muda kita agar siap dan matang dalam menghadapi serangan-serangan negatif dari media internet.
Sebuah langkah yang baik telah banyak dilakukan oleh ulama-ulama di timur tengah dan para cendekiawan Islam di Eropa dan Amerika yang menyambut media internet sebagai senjata dakwah. Langkah-langkah untuk berdakwah melalui internet dapat dilakukan dengan membuat jaringan-jaringan tentang Islam, diantaranya: cybermuslim atau cyberdakwah, Situs Dakwah Islam, YoutubeIslam atau IslamTube, Website, Blog dan Jaringan sosial seperti: Facebook dan twitter.
Masing-masing cyber tersebut menyajikan dan menawarkan informasi Islam dengan berbagai fasilitas dan metode yang beragam variasinya.Sebagai contoh, situs seorang ulama bernama Salman Audah yang menjadi direktur situs dakwah Islam (www.islamtoday.com) dengan empat bahasa besar utama dunia, Inggris, Arab, Prancis, dan Mandarin. Selain Salman, masih ada sosok muallaf bernama Yusuf Estes yang terkenal denganYoutubeIslam.com-nya (sekarang IslamTube.com). Sebuah situs seperti Youtube yang dikelola secara islami. Yusuf juga diketahui mengelola banyak situs lainnya. Dari dakwahnyalah diketahui bahwa banyak ratusan bahkan ribuan orang kafir menerima dakwah islam. Dan jutaan remaja Islam mengenal agamanya dengan baik. Di Indonesia, telah tampil beberapa situs Islam terkemuka seperti http://www.muslimdaily.net, http://www.eramuslim.com, http://www.hidayatullah.com dan beberapa situs Islam lainnya dengan beraneka latar belakangnya.
Disaat umat lain telah berupaya menyebarkan ajaran dan pandangannya menggunakan iklan-iklan di televisi, di komunitas maya menggunakan email, mailing list, forum diskusi, internet messenger, sampai yang ter-update saat ini (Facebook), Oleh karena itu informasi yang akan disampaikan dalam berdakwah ini harus bersifat valid, terpercaya, bukan sebuah fitnah, bersifat konstruktif, membuka dan memperdalam wawasan, terbuka untuk didiskusikan dan tidak mengandung unsur-unsur lain yang dapat merusak makna dakwah itu sendiri.
Sumber :
http://www.tribunnews.com/2012/05/16/pengguna-facebook-as-nomor-1-indonesia-nomor-4
http://teknologi.kompasiana.com/internet/2013/01/07/18-19-juta-pengguna-baru-internet-di-2013-didominasi-kalangan-middle-class-517133.html
http://mafazaif.wordpress.com/2010/01/09/pemanfaatan-ti-untuk-kemajuan-dakwah/
http://www.kamisama86.co.cc/2009/11/metode-dakwah-melalui-internet.html
http//www.masjidkotabogor.com/index.php/news/view/107
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Internet
http://ilpi.multiply.com/journal/item/7 http//www.dhani.singcat.com//internet/modul.php?page/
http://stikom-pti2007-kelompok9.blogspot.com/2007/09/pengertian-internet.html
http://icus2ays.blogspot.com/2008/04/internet-media-dakwah-alternatif.html
http://mafazaif.wordpress.com/2010/01/09/pemanfaatan-ti-untuk-kemajuan-dakwah/
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_definisi_komunikasi
BURUKNYA MENGIKUTI HAWA NAFSU (Menurut Surah Al-A’raaf : 175-176, Surah Al-Kahfi : 28, dan Surah Shad : 26)
Nafsu secara etimologi berarti jiwa. adapun nafsu secara terminologis ilmu tasawwuf akhlaq, nafsu adalah dorongan-dorongan alamiah manusia yang mendorong pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Adapun penertian hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa kita yang cenderung negatif baik bersifat jasmani maupun nafsu yang bersifat maknawi. Nafsu yang bersifat jasmani yaitu sesuatu yang berkaitan dengan tubuh kita seperti makanan, minum, dan kebutuhan biologis, kecintaan kepada harta benda dan kekayaan dunia lainnya, nafsu yang bersifat maknawi yaitu, nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan rohani seperti, nafsu ingin diperhatikan orang lain, ingin dianggap sebagai orang yang paling penting, paling pinter, paling berperan, paling hebat, nafsu ingin disanjung dan lain-lain. hawa nafsu inilah yang mengakibatkan pengaruh buruk / negatif bagi manusia. Dari segi tahapan nafsu terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. Nafsu amarah
Yaitu jiwa yang masih cenderung kepada kesenangan-kesenangan yang rendah, yaitu kesenangan yang bersifat duniawi. Nafsu ini berada pada tahap pertama yang tergolong sangat rendah, karena yang memiliki nafsu ini masih cenderung kepada perbuatan-perbuatan yang maksiat. Secara alami nafsu amarah cenderung kepada hal-hal yang tidak baik. Bahkan, karena kebiasaan berbuat keburukan tersebut, bila mana dia tidak melakukannya, maka dia akan merasa gelisah, sakau dan gundah gulana. Allah SWT berfirman dalam al-qur’an :
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf : 53).
2. Nafsu Lawwamah
Yaitu jiwa yang sudah sadar dan mampu melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, dengan kesadaran itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan rendah dan selalu berupaya melakukan sesuatu yang mengantarkan kebahagian yang bernilai tinggi.
Ustadz Arifin ilham pernah mengatakan , bahwa orang yang masih memiliki nafsu lawammah ini biasanya disaat ia melakukan maksiat/dosa maka akan timbul penyesalan dalam dirinya, namun dalam kesempatan lain ia akan mengulangi maksiat tersebut yang juga akan diiringi dengan penyesalan-penyesalan kembali. Selain itu ia juga menyesal kenapa ia tidak dapat berbuat kebaikan lebih banyak Nafsu ini tergolong pada tahap kedua, nafsu ini disinyalir Al-Qur’an :
وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Artinya : Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. Al- Qiyamaah : 2).
3. Nafsu Mutmainnah
Yakni jiwa tenang, tentram, karena nafsu ini tergolong tahap tertinggi, nafsu yang sempurna berada dalam kebenaran dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT, Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Artinya : Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al - Fajr : 27-28). Dalam ayat lain Allah menghiburnya yaitu :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (QS. Asy – Syams : 9).
Dari penjelasan di atas kita bisa memahami bahwa tidak semua hawa nafsu itu buruk, namun pada kesempatan kali ini kami hanya akan menjelaskan tentang hawa nafsu yang menjerumuskan kepada keburukan yaitu nafsu amarah. Disebutkan diatas bahwa nafsu amarah adalah nafsu yang mengarah kepada sesuatu yang buruk, kepada kesenangan dunia yang melalaikan. Ada beberapa tahapan ketika seseorang terjerumus untuk mengikuti nafsu amarahnya, hal itu diawali ketika dia mulai meninggalkan petunjuk Allah yaitu firmannya yang di turunkan kepada para nabi dan rasul pilihannya. Ketika itulah ia mulai tersesat dan memperturutkan hawa nafsunya, Allah berfirman dalam al-qur’an :
وَاتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَاَ الَّذِىۡۤ اٰتَيۡنٰهُ اٰيٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنۡهَا فَاَتۡبَعَهُ الشَّيۡطٰنُ فَكَانَ مِنَ الۡغٰوِيۡنَ ﴿7:175﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰهُ بِهَا وَلٰـكِنَّهٗۤ اَخۡلَدَ اِلَى الۡاَرۡضِ وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ ۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الۡـكَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ اَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَث ؕ ذٰ لِكَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِيۡنَ كَذَّبُوۡا بِاٰيٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُوۡنَ ﴿7:176﴾
Artinya : Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuantentangisi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-A’raaf : 175-176).
Ayat 175
Ayat ini berbicara tentang orang yang mengingkari firman Allah atau tidak mengamalkannya. Mereka itu melepaskan apa yang melekat pada dirinya bagaikan ular melepaskan kulirnya. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa Dan bacakanlah kepada mereka, yakni sampaikan tahap demi tahap kepada kaum musyrikin berita yang sungguh penting lagi benar menyangkut orang yang telah Kami anugerahkan kepadanya ayat-ayat Kami, yakni mengilhaminya dan memudahkan baginya meraih pengetahuan tentang keesaan Allah dan tuntunan-tuntunan agama kemudian dia menguliti diri darinya, yakni menanggalkan diri dari pesan ayat-ayat itu, dan tidak mengamalkannya maka dia diikuti oleh setan sampai dia tergoda, sehingga jadilah dia termasuk kelompok orang-orang yang sesat.
Sementara ulama menjadikan ayat ini sebagai perumpamaan bagi setiap orang yang telah mengetahui kebenaran dan memilikinya, tetapi enngan mengikuti tuntunan kebenaran bahkan menyimpang darinya. Ada juga yang memahami ayat ini sebagai peristiwa seseorang tertentu, yang hendaknya menjadi pelajaran bagi manusia.Yang bersangkutan, telah dianugerahi Allah SWT pengetahuan tetapi sedikit demi sedikit mengabaikan pengetahuannya dan terjerumus dalam kesesatan.
Ayat 176
Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah SWT menyatakan bahwa dan akhirnya Kami menghendaki, pasti Kami menyucikan jiwanya dan meninggikan derajat dengannya, yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu,tetapi dia mengekal, yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati gemerlapannya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan penuh antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya,yakni tidak menghalaunya ia menjulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamannya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka dan siapapun kisah-kisah itu agar mereka berpikir sehingga tidak melakukan apa yang dilakukan oleh yang dikecam ini. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami karena mereka mengabaikan tuntunan pengetahuannya bahkan berbuat zalim dan terhadap diri mereka sendirilah -bukan terhadap orang lain – mereka terus menerus berbuat zalim.
Dari ayat di atas terlihat sangat jelas sekali bahwa tahap pertama ketika seseorang mengikuti hawa nafsu adalah ketika dia telah dianugrahi oleh Allah petunjuk kepada keimanan,ketaqwaan dan kemuliaan tetapi dia melepaskan petunjuk tersebut dan memilih menjatuhkan dirinya kedalam kehinaan dengan mengikuti hawa nafsunya. Tahap selanjutnya ketika dia sudah mulai kecanduan mengikuti hawa nafsu dan terus mengejar semua keinginannya akan hal dunia adalah dia akan menjadi lalai dari mengingat Allah, tidak ada yang lebih buruk dan lebih celaka dari pada seorang hamba yang hatinya lalai dari mengingat Allah tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan begitu banyak nikmat di sepanjang kehidupannya, padahal sebelumnya ia selalu mengingatNya, hal ini tak lain dan tak bukan adalah karena Allah telah melalaikan ia dari mengingat-Nya disebabkan ia mengikuti hawa nafsu dan berbuat melampaui batas. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا)
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.(QS. Al-Kahfi :28)
Dan bersabarlah engkau (Muhammad) Yakni tahanlah dirimu bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-NyaBukan mengharapkan perhiasan dunia. Mereka ini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang fakir. Dalam ayat ini terdapat perintah untuk bergaul dengan orang-orang yang baik meskipun mereka dianggap rendah oleh manusia atau keadaannya miskin, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini Karena hal itu berbahaya dan tidak bermanfaat serta memutuskan maslahat agama, di mana di dalamnya terdapat ketergantungan hati kepada dunia, sehingga pikiran dan perhatian tertuju kepadanya dan hilang dari hatinya cinta kepada akhirat. Yang demikian karena keindahan dunia sangat menakjubkan bagi orang yang memandangnya, mempengaruhi akalnya, sehingga membuat hati lalai dari mengingat Allah, dan akhirnya ia akan mendatangi kelezatan dunia dan mengikuti kesenangan hawa nafsunya, waktunya pun menjadi sia-sia dan keadaannya menjadi tidak terkendali, sehingga ia menjadi orang yang rugi dan menyesal selama-lamanya, dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami Yakni dari Al Qur’an atau dari mengingat Allah. Hal itu karena ia lupa kepada Allah, maka Allah hukum dengan melalaikan hatinya dari mengingat-Nya, serta menuruti keinginan(hawa nafsu)nya Meskipun di sana terdapat kerugian dan kebinasaan bagi dirinya, dan keadaannya sudah melewati batas Yakni maslahat agama dan dunianya menjadi sia-sia. Orang yang seperti ini dilarang Allah untuk diituruti, karena menurutinya akan membuatnya terus mengikuti. Bahkan yang layak diikuti adalah orang yang hatinya penuh rasa cinta kepada Allah, mengikuti keridhaan-Nya, di mana ia mendahulukan keridhaan Allah di atas hawa nafsunya, sehingga ia dapat menjaga waktunya dan keadaannya pun menjadi baik, perbuatannya istiqamah serta mengajak manusia kepada nikmat yang dikaruniakan Allah itu kepadanya. Dalam ayat ini terdapat anjuran berdzikr, berdoa dan beribadah di penghujung siang (pagi dan petang), karena Allah memuji mereka karena perbuatan itu, dan setiap perbuatan yang dipuji Allah menunjukkan bahwa Allah mencintainya, dan jika perbuatan itu dicintai-Nya, maka berarti Dia memerintahkan dan mendorongnya.
Ayat diatas menjadi dalil terhadap buruknya prilaku mengharap perhiasan dunia yang menyebabkan hati menjadi lalai dan akhirnya jatuh dan terbelenggu menjadi budak hawa nafsu serta berbuat melampaui batas dan karena hal itu Allah menghukum orang yang mengekor hawa nafsu dengan membuat hati mereka lalai dari mengingat Allah .
Tahap selanjutnya ketika seorang telah lalai dari mengingat Allah dan mengikuti hawa nafsu ialah ia(hawa nafsu) akan menjadikan orang yang mengikutinya tersesat dari jalan Allah dan akibatnya ia akan mendapatkan azab yang pedih, hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an :
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.(Qs. Shad : 26)
Ayat diatas selain menjelaskan tentang perintah Allah untuk memberikan keputusan diantara manusia dengan adil, ayat ini juga menjelaskan akibat dari mengikuti hawa nafsu yaitu menyebabkan pelakunya menjadi terlena dan melupakan hari perhitungan, mereka tersesat dari jalan Allah dan akhirnya mendapatkan azab yang berat dari Allah karena prilaku mereka itu.
Di sinilah tahapan akhir mereka yang memperturutkan hawa nafsunya, yaitu kerugian di dunia dan di akhirat karena di dunia saja mereka terbelenggu menjadi budak hawa nafsu, apalagi di akhirat mereka terbelenggu di tiang-tiang penyiksaan api neraka.
Keimpulan dari semua hal di atas adalah mengikuti hawa nafsu memiliki beberapa tahapan yang semuanya buruk dan berakibat kepada akhir yang buruk yaitu diawali dengan meninggalkan ayat-ayat Allah dan petunjuknya sehingga terjatuh kedalam kehinaan dan diibaratkan seperti binatang(QS. Al-A’raf 175-176) kemudian telena dengan hawa nafsu sehingga lalai dari mengingat Allah (QS. Al-Kahfi :28) dan tahap terakhirnya adalah tersesat dari jalan Allah dan akibatnya diazab oleh Allah dengan azab yang berat.
Sumber :
tafsir fi dzilaalil qur'an
Adapun penertian hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa kita yang cenderung negatif baik bersifat jasmani maupun nafsu yang bersifat maknawi. Nafsu yang bersifat jasmani yaitu sesuatu yang berkaitan dengan tubuh kita seperti makanan, minum, dan kebutuhan biologis, kecintaan kepada harta benda dan kekayaan dunia lainnya, nafsu yang bersifat maknawi yaitu, nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan rohani seperti, nafsu ingin diperhatikan orang lain, ingin dianggap sebagai orang yang paling penting, paling pinter, paling berperan, paling hebat, nafsu ingin disanjung dan lain-lain. hawa nafsu inilah yang mengakibatkan pengaruh buruk / negatif bagi manusia. Dari segi tahapan nafsu terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. Nafsu amarah
Yaitu jiwa yang masih cenderung kepada kesenangan-kesenangan yang rendah, yaitu kesenangan yang bersifat duniawi. Nafsu ini berada pada tahap pertama yang tergolong sangat rendah, karena yang memiliki nafsu ini masih cenderung kepada perbuatan-perbuatan yang maksiat. Secara alami nafsu amarah cenderung kepada hal-hal yang tidak baik. Bahkan, karena kebiasaan berbuat keburukan tersebut, bila mana dia tidak melakukannya, maka dia akan merasa gelisah, sakau dan gundah gulana. Allah SWT berfirman dalam al-qur’an :
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf : 53).
2. Nafsu Lawwamah
Yaitu jiwa yang sudah sadar dan mampu melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, dengan kesadaran itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan rendah dan selalu berupaya melakukan sesuatu yang mengantarkan kebahagian yang bernilai tinggi.
Ustadz Arifin ilham pernah mengatakan , bahwa orang yang masih memiliki nafsu lawammah ini biasanya disaat ia melakukan maksiat/dosa maka akan timbul penyesalan dalam dirinya, namun dalam kesempatan lain ia akan mengulangi maksiat tersebut yang juga akan diiringi dengan penyesalan-penyesalan kembali. Selain itu ia juga menyesal kenapa ia tidak dapat berbuat kebaikan lebih banyak Nafsu ini tergolong pada tahap kedua, nafsu ini disinyalir Al-Qur’an :
وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Artinya : Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. Al- Qiyamaah : 2).
3. Nafsu Mutmainnah
Yakni jiwa tenang, tentram, karena nafsu ini tergolong tahap tertinggi, nafsu yang sempurna berada dalam kebenaran dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT, Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Artinya : Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al - Fajr : 27-28). Dalam ayat lain Allah menghiburnya yaitu :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (QS. Asy – Syams : 9).
Dari penjelasan di atas kita bisa memahami bahwa tidak semua hawa nafsu itu buruk, namun pada kesempatan kali ini kami hanya akan menjelaskan tentang hawa nafsu yang menjerumuskan kepada keburukan yaitu nafsu amarah. Disebutkan diatas bahwa nafsu amarah adalah nafsu yang mengarah kepada sesuatu yang buruk, kepada kesenangan dunia yang melalaikan. Ada beberapa tahapan ketika seseorang terjerumus untuk mengikuti nafsu amarahnya, hal itu diawali ketika dia mulai meninggalkan petunjuk Allah yaitu firmannya yang di turunkan kepada para nabi dan rasul pilihannya. Ketika itulah ia mulai tersesat dan memperturutkan hawa nafsunya, Allah berfirman dalam al-qur’an :
وَاتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَاَ الَّذِىۡۤ اٰتَيۡنٰهُ اٰيٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنۡهَا فَاَتۡبَعَهُ الشَّيۡطٰنُ فَكَانَ مِنَ الۡغٰوِيۡنَ ﴿7:175﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰهُ بِهَا وَلٰـكِنَّهٗۤ اَخۡلَدَ اِلَى الۡاَرۡضِ وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ ۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الۡـكَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ اَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَث ؕ ذٰ لِكَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِيۡنَ كَذَّبُوۡا بِاٰيٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُوۡنَ ﴿7:176﴾
Artinya : Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuantentangisi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-A’raaf : 175-176).
Ayat 175
Ayat ini berbicara tentang orang yang mengingkari firman Allah atau tidak mengamalkannya. Mereka itu melepaskan apa yang melekat pada dirinya bagaikan ular melepaskan kulirnya. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa Dan bacakanlah kepada mereka, yakni sampaikan tahap demi tahap kepada kaum musyrikin berita yang sungguh penting lagi benar menyangkut orang yang telah Kami anugerahkan kepadanya ayat-ayat Kami, yakni mengilhaminya dan memudahkan baginya meraih pengetahuan tentang keesaan Allah dan tuntunan-tuntunan agama kemudian dia menguliti diri darinya, yakni menanggalkan diri dari pesan ayat-ayat itu, dan tidak mengamalkannya maka dia diikuti oleh setan sampai dia tergoda, sehingga jadilah dia termasuk kelompok orang-orang yang sesat.
Sementara ulama menjadikan ayat ini sebagai perumpamaan bagi setiap orang yang telah mengetahui kebenaran dan memilikinya, tetapi enngan mengikuti tuntunan kebenaran bahkan menyimpang darinya. Ada juga yang memahami ayat ini sebagai peristiwa seseorang tertentu, yang hendaknya menjadi pelajaran bagi manusia.Yang bersangkutan, telah dianugerahi Allah SWT pengetahuan tetapi sedikit demi sedikit mengabaikan pengetahuannya dan terjerumus dalam kesesatan.
Ayat 176
Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah SWT menyatakan bahwa dan akhirnya Kami menghendaki, pasti Kami menyucikan jiwanya dan meninggikan derajat dengannya, yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu,tetapi dia mengekal, yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati gemerlapannya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan penuh antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya,yakni tidak menghalaunya ia menjulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamannya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka dan siapapun kisah-kisah itu agar mereka berpikir sehingga tidak melakukan apa yang dilakukan oleh yang dikecam ini. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami karena mereka mengabaikan tuntunan pengetahuannya bahkan berbuat zalim dan terhadap diri mereka sendirilah -bukan terhadap orang lain – mereka terus menerus berbuat zalim.
Dari ayat di atas terlihat sangat jelas sekali bahwa tahap pertama ketika seseorang mengikuti hawa nafsu adalah ketika dia telah dianugrahi oleh Allah petunjuk kepada keimanan,ketaqwaan dan kemuliaan tetapi dia melepaskan petunjuk tersebut dan memilih menjatuhkan dirinya kedalam kehinaan dengan mengikuti hawa nafsunya. Tahap selanjutnya ketika dia sudah mulai kecanduan mengikuti hawa nafsu dan terus mengejar semua keinginannya akan hal dunia adalah dia akan menjadi lalai dari mengingat Allah, tidak ada yang lebih buruk dan lebih celaka dari pada seorang hamba yang hatinya lalai dari mengingat Allah tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan begitu banyak nikmat di sepanjang kehidupannya, padahal sebelumnya ia selalu mengingatNya, hal ini tak lain dan tak bukan adalah karena Allah telah melalaikan ia dari mengingat-Nya disebabkan ia mengikuti hawa nafsu dan berbuat melampaui batas. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا)
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.(QS. Al-Kahfi :28)
Dan bersabarlah engkau (Muhammad) Yakni tahanlah dirimu bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-NyaBukan mengharapkan perhiasan dunia. Mereka ini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang fakir. Dalam ayat ini terdapat perintah untuk bergaul dengan orang-orang yang baik meskipun mereka dianggap rendah oleh manusia atau keadaannya miskin, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini Karena hal itu berbahaya dan tidak bermanfaat serta memutuskan maslahat agama, di mana di dalamnya terdapat ketergantungan hati kepada dunia, sehingga pikiran dan perhatian tertuju kepadanya dan hilang dari hatinya cinta kepada akhirat. Yang demikian karena keindahan dunia sangat menakjubkan bagi orang yang memandangnya, mempengaruhi akalnya, sehingga membuat hati lalai dari mengingat Allah, dan akhirnya ia akan mendatangi kelezatan dunia dan mengikuti kesenangan hawa nafsunya, waktunya pun menjadi sia-sia dan keadaannya menjadi tidak terkendali, sehingga ia menjadi orang yang rugi dan menyesal selama-lamanya, dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami Yakni dari Al Qur’an atau dari mengingat Allah. Hal itu karena ia lupa kepada Allah, maka Allah hukum dengan melalaikan hatinya dari mengingat-Nya, serta menuruti keinginan(hawa nafsu)nya Meskipun di sana terdapat kerugian dan kebinasaan bagi dirinya, dan keadaannya sudah melewati batas Yakni maslahat agama dan dunianya menjadi sia-sia. Orang yang seperti ini dilarang Allah untuk diituruti, karena menurutinya akan membuatnya terus mengikuti. Bahkan yang layak diikuti adalah orang yang hatinya penuh rasa cinta kepada Allah, mengikuti keridhaan-Nya, di mana ia mendahulukan keridhaan Allah di atas hawa nafsunya, sehingga ia dapat menjaga waktunya dan keadaannya pun menjadi baik, perbuatannya istiqamah serta mengajak manusia kepada nikmat yang dikaruniakan Allah itu kepadanya. Dalam ayat ini terdapat anjuran berdzikr, berdoa dan beribadah di penghujung siang (pagi dan petang), karena Allah memuji mereka karena perbuatan itu, dan setiap perbuatan yang dipuji Allah menunjukkan bahwa Allah mencintainya, dan jika perbuatan itu dicintai-Nya, maka berarti Dia memerintahkan dan mendorongnya.
Ayat diatas menjadi dalil terhadap buruknya prilaku mengharap perhiasan dunia yang menyebabkan hati menjadi lalai dan akhirnya jatuh dan terbelenggu menjadi budak hawa nafsu serta berbuat melampaui batas dan karena hal itu Allah menghukum orang yang mengekor hawa nafsu dengan membuat hati mereka lalai dari mengingat Allah .
Tahap selanjutnya ketika seorang telah lalai dari mengingat Allah dan mengikuti hawa nafsu ialah ia(hawa nafsu) akan menjadikan orang yang mengikutinya tersesat dari jalan Allah dan akibatnya ia akan mendapatkan azab yang pedih, hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an :
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.(Qs. Shad : 26)
Ayat diatas selain menjelaskan tentang perintah Allah untuk memberikan keputusan diantara manusia dengan adil, ayat ini juga menjelaskan akibat dari mengikuti hawa nafsu yaitu menyebabkan pelakunya menjadi terlena dan melupakan hari perhitungan, mereka tersesat dari jalan Allah dan akhirnya mendapatkan azab yang berat dari Allah karena prilaku mereka itu.
Di sinilah tahapan akhir mereka yang memperturutkan hawa nafsunya, yaitu kerugian di dunia dan di akhirat karena di dunia saja mereka terbelenggu menjadi budak hawa nafsu, apalagi di akhirat mereka terbelenggu di tiang-tiang penyiksaan api neraka.
Keimpulan dari semua hal di atas adalah mengikuti hawa nafsu memiliki beberapa tahapan yang semuanya buruk dan berakibat kepada akhir yang buruk yaitu diawali dengan meninggalkan ayat-ayat Allah dan petunjuknya sehingga terjatuh kedalam kehinaan dan diibaratkan seperti binatang(QS. Al-A’raf 175-176) kemudian telena dengan hawa nafsu sehingga lalai dari mengingat Allah (QS. Al-Kahfi :28) dan tahap terakhirnya adalah tersesat dari jalan Allah dan akibatnya diazab oleh Allah dengan azab yang berat.
Sumber :
tafsir fi dzilaalil qur'an
Jumat, 25 April 2014
KEBUSUKAN PARTAI POLITIK
Partai politik mempunyai posisi dan peranan yang sangat penting dalam Sistem Demokrasi. Partai Politiklah yang sebetulnya menentukan Demokrasi, oleh karena itu partai merupakan pilar yang sangat urgen untuk diperkuat derajat pelembagaannya dalam setiap sistem politik yang demokratis.
Partai memainkan peran sebagai penghubung yang sangat strategis antara proses-proses Pemerintahan dengan Warga Negara. dan diharapkan mampu menampung Aspirasi Publik yang kemudian disuarakan di Parlemen dan dieksekusi di dalam Pemerintahan. Akan tetapi Ironisnya, partai politik saat ini justru dinilai sebagai Pembusuk Politik dan Demokrasi Indonesia itu sendiri. Pembusukan Politik dan Demokrasi disebabkan karena Lemahnya sistem kaderisasi partai, Tidak jelasnya ideologi atau gagasan yang diusung oleh partai politik, Banyaknya politisi Partai Politik yang terlibat kasus korupsi dan masih banyak lagi permasalahan-permaslahan yang ada di internal partai tersebut. Jika kegagalan-kegagalan Partai Politik seperti ini, apalagi yang bisa kita harapkan sebagai suatu institusi politik untuk penyambung lidah antara Pemerintah dengan Masyarakat?
Jadi Dalam hal ini, Partai politik bukan lagi sebagai penyambung atau jembatan antara pemerintah dengan masyarakat, bukan lagi mewadahi aspirasi masyarakat, dan bukan sebagai pejuang untuk mensejahterakan rakyat, melainkan partai politik itu hanya sebagai kendaraan untuk mencapai kekuasaan semata, sebagaimana yang dikatan Gabriel A. Almond (1974), “Partai politik memiliki tujuan utama yaitu mengarah pada penguasaan suatu jabatan publik”
Sebagaimana biasanya yang kita ketahui prilaku pejabat publik, ketika mendapatkan kedudukan sebagai pejabat publik, yang semestinya mengemban amanah rakyat dengan melayani kepentingan masyarakat umum, malah kewajiban tersebut diabaikan karena sibuk mengurus partai dan janji-janji politik lainnya, kita lihat aja salah satu Pejabat Publik, dalam hal ini Presiden RI Cuti pada Tanggal 17 dan 18 Maret 2014 untuk melaksanakan Kampanye Partai Demokratnya, hal serupa dilakukan oleh pejabat-pejabat publik lainnya.
Berkampanye untuk Diri Sendiri atau Partainnya merupakan salah satu upaya mengerahkan massa sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan simpati atau dukungan dari rakyat, dalam menghadapi pertarungan Pemilu Legislatif pada 9 April dan Pemilu Presiden (Pilpres) pada tanggal 9 Juli mendatang, saat kampanye saat itu juga partai dan caleg mempromosikan program atau produk-produk yang unggul tentunya yang disukai oleh masyarakat dan setidaknya bisa mengurangi beban hidup masyarakat yang selama ini mereka rasakan.
Akan tetapi menurut pendapat saya, sedikit demi sedikit seiring dengan waktu masyarakat makin kritis dengan banyaknya sumber informasi yang tersedia, jadi masyarakat lebih peka terhadap permasalahan perpolitikan Bangsa ini, sehingga masyarakat tersebut bisa menentukan pilihannya, tokoh mana yang pantas memimpin dan tokoh mana yang memiliki strategi yang pas untuk menyelesaikan permasalahan Bangsa ini.
Saat berkampanye inilah Partai politik beserta kader-kadernya berkoar-koar menyampaikan Visi Misinya di berbagai Daerah-daerah bahkan ke Pelosok-pelosok Nusantara, Visi Misinya itu tidak lain seperti Sembako Murah, Sekolah Gratis, Pelayanan yang Tanggap Cepat, Layanan Kesehatan Gratis dan lain-lainnya. Janji-janji Busuk Partai dan Caleg seperti ini masyarakat menganggap hal yang lumrah dan masyarakat juga tahu itu hanya sebatas Bahasa Marketing Calon Penguasa semata.
Hal-hal seperti inilah yang terjadi dalam masyarakat dan proses Demokrasi di Indonesia, dengan berbagai macam cara dan strategi tipu daya agar masyarakat nantinya memilih partai atau tokoh tersebut, akan tetapi masyarakat saat ini sudah agak sulit untuk mengharapkan janji-janji partai dan caleg tersebut.
Berdasarkan permasalahan diatas, Partai politik itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah Kendaraan Politik yang ditumpangi segelintir atau sekelompok orang untuk mencapai kekuasaan, disini penulis menganalogikan Partai Politik itu Bagaikan Kendaraan atau Truk Sampah yang Lalulalang ke Daerah, ke Desa-Desa bahkan ke Pelosok-Pelosok untuk menyebarkan bau atau janji-janji kebusukannya.
Oleh karena itu penting bagi kita untuk berusaha cerdas dalam memilih partai politik beserta caleg yang diusungnya. Berikut ini adalah tips untuk memilih caleg agar terhindar dari kebusukannya :
1. jangan pilih caleg yang menghambur-hamburkan uang saat berkampanye. sebenernya hal ini sudah menjadi rahasia publik bila setiap pemilihan caleg pasti membagi-bagikan uang kerap dilakukan walaupun bawaslu atau KPU melarang yang namanya politik uang ini. kita tidak bisa menggunakan logika “belum kepilih aja udah bagi-bagi duit, apalagi pas kepilih” , tapi gunakan logika ekonomi “dengan duit sekecil-kecilnya ketika sudah jadi akan meraup untung sebanyak-banyaknya”. sudah bisa dipastikan yang namanya orang yang menghabiskan uang cuma untuk bisa duduk di kursi pejabat seperti ini nanti kalau sudah terpilih akan mengutamakan mengembalikan modal terlebih dulu. Jangan harap mau memikirkan rakyat. itulah kenapa banyak simpatisan caleg secara sukarela lebih mendukung caleg yang tidak ‘berduit’, seperti tukang becak, ojek, tukang sapu dan lain-lain. intinya apabila diberi uang semacam itu, ambil uangnya tapi tidak usah pilih calegnya.
2. jangan pilih caleg yang menempel spanduk, baliho, atau stiker di pohon atau di jalan yang bisa membuat macet lalu lintas. tahu kah anda, dari 6000-an caleg yang ada, cuma 7% saja caleg yang memiliki program peduli lingkungan. sisanya? wallahu’alam . caleg yang tidak peduli lingkungan, hanya akan menghancurkan sumber daya alam yang ada di Indonesia ini. pemilih juga mesti sadar bahwa kehidupannya tidak cuma sampai 5 tahun ke depan saja, tapi sampai anak-cucu-cicit dan seterusnya. lingkungan sekarang kalau tidak dijaga apalagi tidak di dukung dengan program pemerintah tentunya akan semakin rusak. daerah hijau di seluruh Indonesia semakin sedikit, dan pastinya kasus kekeringan, kebakaran hutan, polusi, air bersih dan “impor” pangan akan semakin banyak.
3. jangan memilih caleg yang mencatut nama atau foto orang yang sudah terkenal terlebih dahulu dimana foto tokoh itu lebih besar dari fotonya sendiri. dan tidak sedikit yang berfoto bersama agar orang menafsirkan dia dekat dengan tokoh itu dengan tujuan untuk membesarkan namanya. misalnya dengan menggunakan embel-embel nama atau foto seperti megawa**, joko**, ah**, wi*-h*, atau malah ulama dan artis lainnya. kenapa? ada dua indikasi orang yang seperti itu : 1. dia type orang yang tidak percaya diri. belum terpilih saja tidak percaya diri, bagaimana mau menyuarakan suara rakyat nanti? 2. dia pembohong karena menempelkan foto orang yang tidak pernah bertemu sama sekali padahal dia berdampingan, kadang bertatapan bahkan bersalaman, hanya melalui teknik photoshop. belum jadi saja sudah membohongi masyarakat, apalagi sudah terpilih?
4. jika caleg mempunya website, akun sosial media atau malah mencantumkan nomor hp, cobalah menghubungi mereka. tanyakan visi dan misi, atau program yang akan dijalankan jika terpilih nanti. kalau bisa ajaklah bertemua agar kenal langsung orangnya bagaimana. jika yang menanggapi adalah calegnya langsung (atau bisa jadi simpatisannya) dengan baik dan sopan masih okelah untuk dipilih. jika tidak ditanggapi atau malah merasa terganggu dengan dihubungi, maka tidak usah memilih caleg tersebut. belum terpilih saja sudah enggan mendengarkan suara rakyat, apalagi sudah kepilih?.
5. jika ke-empatnya sudah anda lakukan tapi masih saja bingung, maka jalan paling tepatnya adalah solat istikharah, dijamin insya Allah anda akan merasa mantap untuk memilih calegnya. ingat, lebih baik milih dengan cerdas, dari pada golput!!!!. masa depan indonesia ada di tangan kita semua.
RABU 25-04-2014
sumber :
1. http://politik.kompasiana.com/2014/03/29/partai-politik-dan-janji-janji-busuk-kampanye-642937.html
2.http://politik.kompasiana.com/2014/03/24/5-tips-memilih-caleg-yang-baik-dan-benar-641355.html
Rabu, 09 April 2014
Mukaddimah Tazkiyah An-Nafs
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
قال الله تعالى يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وقال تعالى يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فإن أَصْدَقُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وَكُلُّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ
Tazkiyah An-Nafs (membersihkan jiwa) merupakan salah satu tugas yang diemban rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dialah yang mengutus kepada ummat yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka. Dia membacakan ayat-ayatNya kepada mereka. Membersihkan (jiwa) mereka , dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka. Sesungguhnya sebelum itu mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. “ (Al-Jumu’ah :2) Karenanya, siapapun yang mengharapkan Allah subhanahu wata’ala dan hari akhir, mesti memperhatikan kebersihan jiwanya. Allah subhanahu wata’ala juga menjadikan kebahagiaan seseorang hamba tergantung kepada tazkiyah an-nafs. Hal ini disebutkan di dalam Al-Qur’an setelah disebutkannya sebelas sumpah secara beruntun. Suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hal lain. “Demi matahari dan sinarnya di pagi hari, dan bulan apabila menggiringnya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta apa-apa yang dibinanya, dan bumi serta apa-apa yang dihamparkannya, dan demi jiwa serta penyempurnaannya, lalu Dia Allah mengilhamkan kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik. Sesungguhnya telah mendapat kemenanganlah orang yang membersihkan (jiwa)nya. Dan merugilah orang yang mengotori-nya.” (Asy-Syams : 1-10) Kata tazkiyah berarti membersihkan atau mensucikan. Karena itulah sedekah harta dinamakan zakat. Artinya, dengan dikeluarkannya hak Allah subhanahu wata’ala dari harta itu, ia menjadi suci, bersih. Selanjutnya, mengambil manfa’at dari kitab-kitab yang membahas masalah ini yang merupakan buah karya para ulama terdahulu tidaklah mudah. Hal ini disebabkan banyak diantara buku-buku itu yang memuat hadits lemah, bahkan palsu. Untuk itulah----alhamdulillah---------di dalam menyusun artikel singkat ini, kami berusaha mengumpulkan hanya hadits-hadits shahih tentang topic-topik pembersihan jiwa. Kami menukil para dari ulama yang sudah ahli dalam bidang ini. Mereka adalah Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ibnu Rajab Al-Hambaliy, dan Imam Al-Ghazzaliy. Kami berharap semoga artikel-artikel bias bermanfa’at bagi penyusun, dan pembaca. Khususnya pada hari dimana harta dan anak tidak lagi bermanfa’at, kecuali siapa yang datang kepada Allah subhanahu wata’ala dengan hati yang sehat. Milik Allah-lah segala puji dan anugrah. Dia pelindung kita dan kepadaNya kita akan kembali.
Langganan:
Komentar (Atom)
