Sabtu, 10 Mei 2014

BURUKNYA MENGIKUTI HAWA NAFSU (Menurut Surah Al-A’raaf : 175-176, Surah Al-Kahfi : 28, dan Surah Shad : 26)

Nafsu secara etimologi berarti jiwa. adapun nafsu secara terminologis ilmu tasawwuf akhlaq, nafsu adalah dorongan-dorongan alamiah manusia yang mendorong pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Adapun penertian hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa kita yang cenderung negatif baik bersifat jasmani maupun nafsu yang bersifat maknawi. Nafsu yang bersifat jasmani yaitu sesuatu yang berkaitan dengan tubuh kita seperti makanan, minum, dan kebutuhan biologis, kecintaan kepada harta benda dan kekayaan dunia lainnya, nafsu yang bersifat maknawi yaitu, nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan rohani seperti, nafsu ingin diperhatikan orang lain, ingin dianggap sebagai orang yang paling penting, paling pinter, paling berperan, paling hebat, nafsu ingin disanjung dan lain-lain. hawa nafsu inilah yang mengakibatkan pengaruh buruk / negatif bagi manusia. Dari segi tahapan nafsu terbagi menjadi tiga bagian yaitu :

1. Nafsu amarah
Yaitu jiwa yang masih cenderung kepada kesenangan-kesenangan yang rendah, yaitu kesenangan yang bersifat duniawi. Nafsu ini berada pada tahap pertama yang tergolong sangat rendah, karena yang memiliki nafsu ini masih cenderung kepada perbuatan-perbuatan yang maksiat. Secara alami nafsu amarah cenderung kepada hal-hal yang tidak baik. Bahkan, karena kebiasaan berbuat keburukan tersebut, bila mana dia tidak melakukannya, maka dia akan merasa gelisah, sakau dan gundah gulana. Allah SWT berfirman dalam al-qur’an :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.  (QS. Yusuf : 53).
2. Nafsu Lawwamah

Yaitu jiwa yang sudah sadar dan mampu melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, dengan kesadaran itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan rendah dan selalu berupaya melakukan sesuatu yang mengantarkan kebahagian yang bernilai tinggi.
Ustadz Arifin ilham pernah mengatakan , bahwa orang yang masih memiliki nafsu lawammah ini biasanya disaat ia melakukan maksiat/dosa maka akan timbul penyesalan dalam dirinya, namun dalam kesempatan lain ia akan mengulangi maksiat tersebut yang juga akan diiringi dengan penyesalan-penyesalan kembali. Selain itu ia juga menyesal kenapa ia tidak dapat berbuat kebaikan lebih banyak Nafsu ini tergolong pada tahap kedua, nafsu ini disinyalir Al-Qur’an :
وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

Artinya : Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. Al- Qiyamaah : 2).

3. Nafsu Mutmainnah
Yakni jiwa tenang, tentram, karena nafsu ini tergolong tahap tertinggi, nafsu yang sempurna berada dalam kebenaran dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT, Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Artinya : Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al - Fajr : 27-28). Dalam ayat lain Allah menghiburnya yaitu :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (QS. Asy – Syams : 9).
Dari penjelasan di atas kita bisa memahami bahwa tidak semua hawa nafsu itu buruk, namun pada kesempatan kali ini kami hanya akan menjelaskan tentang hawa nafsu yang menjerumuskan kepada keburukan yaitu nafsu amarah. Disebutkan diatas bahwa nafsu amarah adalah nafsu yang mengarah kepada sesuatu yang buruk, kepada kesenangan dunia yang melalaikan. Ada beberapa tahapan ketika seseorang terjerumus untuk mengikuti nafsu amarahnya, hal itu diawali ketika dia mulai meninggalkan petunjuk Allah yaitu firmannya yang di turunkan kepada para nabi dan rasul pilihannya. Ketika itulah ia mulai tersesat dan memperturutkan hawa nafsunya, Allah berfirman dalam al-qur’an :
وَاتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَاَ الَّذِىۡۤ اٰتَيۡنٰهُ اٰيٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنۡهَا فَاَتۡبَعَهُ الشَّيۡطٰنُ فَكَانَ مِنَ الۡغٰوِيۡنَ‏ ﴿7:175﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰهُ بِهَا وَلٰـكِنَّهٗۤ اَخۡلَدَ اِلَى الۡاَرۡضِ وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ ۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الۡـكَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ اَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَث ؕ ذٰ لِكَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِيۡنَ كَذَّبُوۡا بِاٰيٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُوۡنَ‏ ﴿7:176﴾
Artinya : Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuantentangisi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,  Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-A’raaf : 175-176).
Ayat 175
           Ayat ini berbicara tentang orang yang mengingkari firman Allah atau tidak mengamalkannya. Mereka itu melepaskan apa yang melekat pada dirinya bagaikan ular melepaskan kulirnya. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa Dan bacakanlah kepada mereka, yakni sampaikan tahap demi tahap kepada kaum musyrikin berita yang sungguh penting lagi benar menyangkut orang yang telah Kami anugerahkan kepadanya ayat-ayat Kami, yakni mengilhaminya dan memudahkan baginya meraih pengetahuan tentang keesaan Allah dan tuntunan-tuntunan agama kemudian dia menguliti diri darinya, yakni menanggalkan diri dari pesan ayat-ayat itu, dan tidak mengamalkannya maka dia diikuti oleh setan sampai dia tergoda, sehingga jadilah dia termasuk kelompok orang-orang yang sesat.
            Sementara ulama menjadikan ayat ini sebagai perumpamaan bagi setiap orang yang telah mengetahui kebenaran dan memilikinya, tetapi enngan mengikuti tuntunan kebenaran bahkan menyimpang darinya. Ada juga yang memahami ayat ini sebagai peristiwa seseorang tertentu, yang hendaknya menjadi pelajaran bagi manusia.Yang bersangkutan, telah dianugerahi Allah SWT pengetahuan tetapi sedikit demi sedikit mengabaikan pengetahuannya dan terjerumus dalam kesesatan.
Ayat 176
            Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah SWT menyatakan bahwa dan akhirnya Kami menghendaki, pasti Kami menyucikan jiwanya dan meninggikan derajat dengannya, yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu,tetapi dia mengekal, yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati gemerlapannya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan penuh antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya,yakni tidak menghalaunya ia menjulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamannya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka dan siapapun kisah-kisah itu agar mereka berpikir sehingga tidak melakukan apa yang dilakukan oleh yang dikecam ini. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami karena mereka mengabaikan tuntunan pengetahuannya bahkan berbuat zalim dan terhadap diri mereka sendirilah -bukan terhadap orang lain – mereka terus menerus berbuat zalim.
Dari ayat di atas terlihat sangat jelas sekali bahwa tahap pertama ketika seseorang mengikuti hawa nafsu adalah ketika dia telah dianugrahi oleh Allah petunjuk kepada keimanan,ketaqwaan dan kemuliaan tetapi dia melepaskan petunjuk tersebut dan memilih menjatuhkan dirinya kedalam kehinaan dengan mengikuti hawa nafsunya. Tahap selanjutnya ketika dia sudah mulai kecanduan mengikuti hawa nafsu dan terus mengejar semua keinginannya akan hal dunia adalah dia akan menjadi lalai dari mengingat Allah, tidak ada yang lebih buruk dan lebih celaka dari pada seorang hamba yang hatinya lalai dari mengingat Allah tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan begitu banyak nikmat di sepanjang kehidupannya, padahal sebelumnya ia selalu mengingatNya, hal ini tak lain dan tak bukan adalah karena Allah telah melalaikan ia dari mengingat-Nya disebabkan ia mengikuti hawa nafsu dan berbuat melampaui batas. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا)

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.(QS. Al-Kahfi :28)

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) Yakni tahanlah dirimu bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-NyaBukan mengharapkan perhiasan dunia. Mereka ini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang fakir. Dalam ayat ini terdapat perintah untuk bergaul dengan orang-orang yang baik meskipun mereka dianggap rendah oleh manusia atau keadaannya miskin, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini Karena hal itu berbahaya dan tidak bermanfaat serta memutuskan maslahat agama, di mana di dalamnya terdapat ketergantungan hati kepada dunia, sehingga pikiran dan perhatian tertuju kepadanya dan hilang dari hatinya cinta kepada akhirat. Yang demikian karena keindahan dunia sangat menakjubkan bagi orang yang memandangnya, mempengaruhi akalnya, sehingga membuat hati lalai dari mengingat Allah, dan akhirnya ia akan mendatangi kelezatan dunia dan mengikuti kesenangan hawa nafsunya, waktunya pun menjadi sia-sia dan keadaannya menjadi tidak terkendali, sehingga ia menjadi orang yang rugi dan menyesal selama-lamanya, dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami Yakni dari Al Qur’an atau dari mengingat Allah. Hal itu karena ia lupa kepada Allah, maka Allah hukum dengan melalaikan hatinya dari mengingat-Nya, serta menuruti keinginan(hawa nafsu)nya Meskipun di sana terdapat kerugian dan kebinasaan bagi dirinya, dan keadaannya sudah melewati batas Yakni maslahat agama dan dunianya menjadi sia-sia. Orang yang seperti ini dilarang Allah untuk diituruti, karena menurutinya akan membuatnya terus mengikuti. Bahkan yang layak diikuti adalah orang yang hatinya penuh rasa cinta kepada Allah, mengikuti keridhaan-Nya, di mana ia mendahulukan keridhaan Allah di atas hawa nafsunya, sehingga ia dapat menjaga waktunya dan keadaannya pun menjadi baik, perbuatannya istiqamah serta mengajak manusia kepada nikmat yang dikaruniakan Allah itu kepadanya. Dalam ayat ini terdapat anjuran berdzikr, berdoa dan beribadah di penghujung siang (pagi dan petang), karena Allah memuji mereka karena perbuatan itu, dan setiap perbuatan yang dipuji Allah menunjukkan bahwa Allah mencintainya, dan jika perbuatan itu dicintai-Nya, maka berarti Dia memerintahkan dan mendorongnya.
Ayat diatas menjadi dalil terhadap buruknya prilaku mengharap perhiasan dunia yang menyebabkan hati menjadi lalai dan akhirnya jatuh dan terbelenggu menjadi budak hawa nafsu serta berbuat melampaui batas dan karena hal itu Allah menghukum orang yang mengekor hawa nafsu dengan membuat hati mereka lalai dari mengingat Allah .
Tahap selanjutnya ketika seorang telah lalai dari mengingat Allah dan mengikuti hawa nafsu ialah ia(hawa nafsu) akan menjadikan orang yang mengikutinya tersesat dari jalan Allah dan akibatnya ia akan mendapatkan azab yang pedih, hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an :

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.(Qs. Shad : 26)
Ayat diatas selain menjelaskan tentang perintah Allah untuk memberikan keputusan diantara manusia dengan adil, ayat ini juga menjelaskan akibat dari mengikuti hawa nafsu yaitu menyebabkan pelakunya menjadi terlena dan melupakan hari perhitungan, mereka tersesat dari jalan Allah dan akhirnya mendapatkan azab yang berat dari Allah karena prilaku mereka itu.
Di sinilah tahapan akhir mereka yang memperturutkan hawa nafsunya, yaitu kerugian di dunia dan di akhirat karena di dunia saja mereka terbelenggu menjadi budak hawa nafsu, apalagi di akhirat mereka terbelenggu di tiang-tiang penyiksaan api neraka.
Keimpulan dari semua hal di atas adalah mengikuti hawa nafsu memiliki beberapa tahapan yang semuanya buruk dan berakibat kepada akhir yang buruk yaitu diawali dengan meninggalkan ayat-ayat Allah dan petunjuknya sehingga terjatuh kedalam kehinaan dan diibaratkan seperti binatang(QS. Al-A’raf 175-176)  kemudian telena dengan hawa nafsu sehingga lalai dari mengingat Allah (QS. Al-Kahfi :28) dan tahap terakhirnya adalah tersesat dari jalan Allah dan akibatnya diazab oleh Allah dengan azab yang berat.

Sumber :
tafsir fi dzilaalil qur'an

Tidak ada komentar:

Posting Komentar