Rabu, 28 Mei 2014
Etika da'i menurut surah fushsilat ayat 33-39, surah Al-Mu'minun ayat 30-44, surah As-Shof
Berdakwah merupakan salah satu kegiatan yang sangat mulia di dalam islam, dakwah adalah sebuah kegiatan mengajak manusia ke jalan yang benar yaitu menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, tentunya kegiatan dakwah ini sangat besar manfaatnya bagi kemaslahatan umat islam sehingga dakwah ini sangat dianjurkan bagi setiap muslim, hal ini sejalan dengan perintah Allah di dalam Al-Qur’an surah ali-imran ayat 104 yang berbunyi :
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)
Dari ayat di atas kita dapat menangkap suatu maksud yaitu anjuran Allah kepada kaum muslimin untuk berdakwah mengajak manusia kepada kebaikan dan tentunya Allah sudah mempersiapkan bagi mereka yang mengikhlaskan dirinya untuk berdakwah sebuah ganjaran yang besar dengan menyebut mereka yang mau berdakwah sebagai orang-orang yang beruntung.
Tugas dakwah yang diemban seorang muslim tentunya bukanlah tugas yang ringan dan bisa dianggap enteng. Tugas dakwah ini memerlukan pengorbanan yang besar dalam segala hal baik harta, tenaga, fikiran bahkan taruhan nyawa, sehingga tidak sembarang orang mampu untuk berdakwah, diperlukan syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi oleh seseorang agar bisa menjadi da’i yang baik dan benar, diantara syarat-syaratnya adalah orang tersebut harus beretika dengan berbagai etika da’i yang diajarkan di dalam Al-Qur’an sehingga dia mampu memenuhi klasifikasi seorang da’i yang baik dan benar.
Berikut ini saya akan menjelaskan beberapa etika seorang da’i yang tersirat pada beberapa ayat dalam Al-Quran.
1. Etika yang pertama adalah yang terdapat di dalam surah Fushilat ayat 33-39 yang berbunyi :
وَمَنۡ اَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِىۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ ﴿۳۳﴾
وَلَا تَسۡتَوِى الۡحَسَنَةُ وَ لَا السَّيِّئَةُ ؕ اِدۡفَعۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِىۡ بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِىٌّ حَمِيۡمٌ ﴿۳۴﴾وَمَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا الَّذِيۡنَ صَبَرُوۡاۚ وَمَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا ذُوۡ حَظٍّ عَظِيۡمٍ ﴿۳۵﴾وَاِمَّا يَنۡزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰهِؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ ﴿۳۶﴾وَمِنۡ اٰيٰتِهِ الَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُؕ لَا تَسۡجُدُوۡا لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَاسۡجُدُوۡا لِلّٰهِ الَّذِىۡ خَلَقَهُنَّ اِنۡ كُنۡتُمۡ اِيَّاهُ تَعۡبُدُوۡنَ ﴿۳۷﴾فَاِنِ اسۡتَكۡبَرُوۡا فَالَّذِيۡنَ عِنۡدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُوۡنَ لَهٗ بِالَّيۡلِ وَالنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔـمُوۡنَ۩ ﴿۳۸﴾وَمِنۡ اٰيٰتِهٖۤ اَنَّكَ تَرَى الۡاَرۡضَ خَاشِعَةً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَيۡهَا الۡمَآءَ اهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡؕ اِنَّ الَّذِىۡۤ اَحۡيَاهَا لَمُحۡىِ الۡمَوۡتٰى ؕ اِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ ﴿۳۹﴾
Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(33)
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.(34)
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.(35)
Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(36)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.(37)
Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.(38)
Dan di antara tanda-tanda-Nya bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.(39)
Tafsir ayat :
033. (Siapakah yang lebih baik perkataannya) maksudnya, tiada seorang pun yang lebih baik perkataannya (daripada seorang yang menyeru kepada Allah) yakni mentauhidkan-Nya (mengerjakan amal yang saleh dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?")
Itulah ungkapan dakwah yang merupakan ungkapan terbaik yang diucapkan di bumi yang dinaikkan ke langit bersama perkataan baik lainnya. Namun, hendaklah perkataan ini disertai dengan amal saleh sebagai pembuktiannya dan disertai dengan penyerahan diri kepada Allah. Maka, dakwah itu hanya semata-mata karena Allah. Juru dakwah ataupun rasul tidak memiliki apapun kecuali sekedar menyampaikan.
Setelah itu, mungkin dia menerima keberpalingan, prilaku buruk, dan keingkaran sebagai imbalan atas ucapannya, lalu dia membalasnya dengan kebaikan. Maka, dia berada pada tempat yang tinggi sedangkan yang lainnya yang membalas dengan keburukan berada di tempat yang rendah “tidaklah sama kebaikan dan kejahatan,,,,,,,” Dia tidak boleh membalasnya dengan keburukan, karna kebaikan tidak sama dampaknya dengan keburukan, demikian pula nilainya. Kesabaran tidak sama dengan toleransi. Dia tidak boleh berkeinginan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jika demikian (membalas kejahatan dengan kebaikan), maka nafsu binal akan terseret kepada ketenangan dan kepercayaan. Sehingga permusuhan menjdi pertemanan dan kekerasan berubah menjadi kelembutan, 034. (Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan) dalam tingkatan rinciannya, karena sebagian daripada keduanya berada di atas sebagian yang lain. (Tolaklah) kejahatan itu (dengan cara) yakni dengan perbuatan (yang lebih baik) seperti marah, imbangilah dengan sabar, bodoh imbangilah dengan santunan, dan perbuatan jahat imbangilah dengan lapang dada atau pemaaf (maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia) maka jadilah yang dulunya musuhmu kini menjadi teman sejawat dalam hal saling kasih mengasihi, jika kamu mempunyai sikap seperti tersebut. Lafal Al Ladzii Mubtada, dan Ka-annahu adalah Khabarnya, lafal Idzaa menjadi Zharaf bagi makna Tasybih. Prinsip ini terbukti kebenarannya dalam realita. Kobaran nafsu berubah menjadi kelembutan, kemarahan menjadi ketentraman, dan kekerasan menjadi rasa malu. Hal itu karena dai berpegan kepada kalimat yang baik, cara yang tenang, dan karakter yang lembut dalam menhadapi kobaran kemarahan dan kebinalan.
Kalaulah perbuatan mereka dibalas deangan pekerjaan yang sama, niscaya kemarahannya semakin berkobar, semakin keras, binal, menolak, dan akhirnya hilang rasa malu darin dirinya, lepas kendali dan merasa bangga dengan berbuat dosa.
Namun, toleransi tersebut memerlukan jiwa besar, terutama tatkala dia mampu berbuat buruk dan membalasnya. Kemampuan ini amat penting bagi adanya dampak toleransi sehingga kebaikan terhadap pelaku keburukan tidak dianggap sebagai kelemahan. Jika dia merasa lemah, maka toleransinya tidak bernilai dan tidak memiliki dampak kebaikan sedikitpun
Toleransi ini pun terbatas pula pada kondisi keburukan pribadi, bukan permusuhan terhadap aqidah dan fitnah di antara kaum muslimin. Jika yang terjadi adalah permusuhan dan fitnah, dia perlu melawannya dengan segala cara atau dia bersabar hingga Allah memutuskan perkaranya.
Inilah suatu pringkat, yaitu peringkat yaitu pembalasan keburukan dengan kebaikan. Toleransi terhadap dorongan kemarahan dan kedengkian serta sikap proporsional dalam menetapkan kapan kita harus toleran dan kapan membalas dengan kebaikan.... merupakan derajat yang agung yang tidak dapat dilakukan oleh semua manusia. Pringkat ini memerlukan kesabaran. Peringkat ini pun merupakan perolehan yang dianugrahkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang berusaha, sehingga mereka berhak menerimanya, 035. (Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan) tidak akan diberikan (melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan) yakni pahala (yang besar.) Ia merupakan derajat yang tinggi sehingga mencapai batas seperti yang tampak pada diri Rasulullah dimana beliau tidak pernah marah untuk membela dirinya sendiri. Apabila beliau marah karena Allah, tiada seorang pun yang dapat meredakannya. Maka, dikatakan kepadanya dan kepada setiap da’i
036. (Dan jika) lafal Immaa ini pada asalnya terdiri dari In Syarthiyyah dan Maa Zaidah yang kemudian keduanya diidgamkan menjadi satu sehingga jadilah Immaa (setan mengganggumu dengan suatu gangguan) yakni jika setan mengalihkan perhatianmu dari pekerti yang baik kepada pekerti yang buruk (maka mohonlah perlindungan kepada Allah) lafal ayat ini menjadi Jawab Syarat, sedangkan Jawab Amar tidak disebutkan, yakni niscaya Dia akan menolak gangguan setan itu dalam dirimu. (Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar) semua percakapan (lagi Maha Mengetahui) semua perbuatan. Kadang-kadang kemarahaan itu mengganggu. Tiba-tiba dia tersadar bahwa dirinya kurang sabar dalam menghadapi kesulitan, atau merasa sulit bersikap toleran. Pada saat demikian berlindunglah kepada Allah dari setan yang dikutuk. Permohonan ini dapat menguatkannya dalam berusaha memanfaatkan daya marah dan terlepas dari celahnya. 037. (Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya) yang telah menciptakan keempat tanda-tanda tersebut (jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah.) 038. (Jika mereka menyombongkan diri) tidak mau bersujud atau menyembah kepada Allah semata (maka mereka yang di sisi Rabbmu) yakni malaikat-malaikat (bertasbih) artinya, salat (kepada-Nya di malam dan siang hari, sedangkan mereka tidak jemu-jemu) tidak pernah merasa jemu bertasbih. 039. (Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus) yaitu tidak ada tumbuh-tumbuhan padanya (maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak) berubah (dan subur) yakni menjadi subur dan rimbun penuh dengan tetumbuhan. (Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.)
Dari tafsir ayat di atas kita dapat menemukan beberapa etika seorang da’i yang terkandung di dalamnya di antaranya adalah :
- Seorang da’i dalam berdakwah harus selalu berserah diri dan pasrah kepada Allah SWT, pasrah atas semua ketetapan yang telah ditetapkan Allah kepadanya sehingga ketika dia menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dan penolakan dari para mad’unya ia mampu menerimanya dengan lapang dada, karena ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa pun kecuali hanya menyampaikan. Perkara mad’u mau beriman atau tidak itu adalah urusan Allah karena Allah yang memberi petunjuk bagi hamba-hambaNya yang Ia kehendaki.
- Seorang da’i dituntut memiliki sifat sabar, yaitu sabar terhadap segala rintangan dalam berdakwah, bersabar terhadap semua tanggapan para mad’u baik yang berupa luapan kemarahan dan kebencian atau kekerasan sebagai bentuk penolakan. Sabar yang dimaksud disini juga berarti tidak serta merta membalas kemarahan dengan kemarahan atau perlakuan buruk dengan perlakuan buruk lainnya, tentunya sabar ini juga ada tempatnya yaitu apabila yang menjadi sasaran keburukan para penentang dakwah adalah diri sendiri pribadi, bila mana yg menjadi sasaran keburukan para mad’u yang menentang adalah agama Islam itu sendiri misal mereka mencaci maki Allah dan Rasulnya maka kita diharuskan untuk marah dan melawan mereka semampu kita sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
- Etika seorang da’i lainnya yang tersurat dalam ayat-ayat di atas adalah berusaha membalas keburukan dengan kebaikan yang tentunya hal ini harus diikuti dengan sifat besar hati atau orang jawa bilang sifat “leghowo” yang mana tentunya Etika yang satu ini amat berat dilakukan dalam kenyataannya, kita manusia selalu cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan yang lebih dahsyat yang mana hal tersebut tentunya akan terus berlarut-larut tak berkesudahan karena kita akan selalu merasa diliputi dendam yang membara. Kita jarang mau berfikir betapa indahnya bila kita bisa berbesar hati membalas keburukan setiap orang yang amat sangat membenci kita dengan kebaikan dan penuh rasa cinta, tentunya hal itu akan memberikan efek yang posif bagi mereka sebagaimana yang di sebutkan dalam ayat “maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia” sungguh luar biasa bila seorang da’i mampu menerapkan etika ini dalam berdakwah maka sudah barang tentu dakwahnya akan mudah diterima oleh hati-hati para mad’u yang meskipun sekeras baja pasti akan luluh olehnya dan efek dakwahnya akan sangat cetar membahana.
- Etika yang selanjutnya yang harus dimilki oleh seorang da’i adalah senantiasa meminta perlindungan kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk baik dari kalangan jin dan kalangan manusia yang mana bisa dipastikan bahwa para syetan tidak akan pernah merasa tenang dengan berbagai kegiatan dakwah seorang da’i dan ia akan berusaha menghalang-halangi bahkan menghentikan sama sekali dakwah tersebut dengan menghalalkan segala cara, salah satunya sebagaimana disebutkan dalam tafsir adalah dengan menghembuskan rasa marah kepada da’i yaitu ketika seorang da’i mendapat perlakuan yang buruk dari para mad’unya dan ketika da’i tersebut membiarkan rasa marahnya membara dan tidak segera berlindung kepada Allah Maka syetan mengendalikannya untuk mengikuti hawa nafsunya dengan membalas perlakuan buruk mad’u dengan perlakuan yang lebih buruk maka disitulah awal dari kegagalan dakwah da’i tersebut.
Etika etika di atas adalah beberapa etika yang tersurat dan tersirat dari al-qur’an surah Fushsilat ayat 33-39 yang mampu saya indra. Selanjutnya saya akan membahas etika seorang da’i yang terkandung dalam surah As-Shoff ayat 2-3 yang berbunyi :
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۲﴾ كَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰهِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۳﴾
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Tafsir ayat :
Ashbabun nuzul ayat ini sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu katsir dalam kitab tafsirnya bahwa jumhur ulama memposisikan ayat ini, bahwa iya diturunkan ketika orang-orang beriman banyak yang merindukan kewajiban jihad atas mereka, namun ketika kewajiban itu turun, ada sebagian yang berpaling. Sesungguhnya ayat di atas diawali dengan celaan atas kasus-kasus yang terjadi,
“(Hai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan) sewaktu kalian meminta berjihad (apa yang tidak kalian perbuat) karena ternyata kalian mengalami kekalahan atau mundur dalam perang Uhud.
Setelah itu langsung diikuti dengan pengingkaran terhadap perlakuan demikian dengan bentuk ungkapan yang menjelaskan tentang kerasnya dan besarnya pengingkaran itu,
“(Amat besar) yakni besar sekali (kebencian) lafal maqtan berfungsi menjadi tamyiz (di sisi Allah bahwa kalian mengatakan) lafal an taquuluu menjadi fa'il dari lafal kabura (apa-apa yang tiada kalian kerjakan).
Kebencian yang besar “di sisi Allah” adalah puncak dari kebencian dan pengingkaran yang paling keras. Hal ini merupakan puncak penghinaan dan celaan atas suatu urusan. Khususnya dalam nurani seorang mukmin yang dipanggil dan diseru dengan kehormatan iman, dan yang diserukan langsung oleh tuhannya yang dia beriman kepada-Nya.
Ayat ketiga mengisyaratkan tentang tema yang langsung di mana sebagian orang-orang yang beriman mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan,...yaitu jihad. Ia telah ditetapkan sebagai amal yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya.
Meskipun ayat diatas diturunkan sebagai peringatan bagi sebagian kaum muslimin yang tidak mengerjakan apa yang dikatakannya, namun secara umum dari ayat diatas kita dapat menangkap suatu maksud yang berhubungan dengan etika seorang da’i, yaitu seyognya bagi da’i untuk mengerjakan apa-apa yang dikatakannya karena seorang da’i yang hanya bisa menyeru manusia untuk mengerjakan sesuatu yang baik namun dirinya sendiri tidak mau mengerjakannya maka dirinya akan mendapatkan kemurkaan yan besar disisi Allah dan tentunya hal ini amat tercela. Seorang da’i yang mau mengerjakan apa yang ia dakwahkan atau yang ia katakan kepada mad’u maka dia telah memberikan contoh yang baik bagi mad’unya dan menjadikan imagenya di mata mad’u menjadi lebih baik dan hal ini akan memberikan dampak positif bagi kegiatan dakwahnya.
Ayat selanjutnya yang berkisah tentang etika seorang da’i adalah ayat Al-Qur’an surah Al-Mu’minun ayat 30-44 yang berbunyi :
اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ وَّاِنۡ كُنَّا لَمُبۡتَلِيۡنَ ﴿۳۰﴾ثُمَّ اَنۡشَاۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا اٰخَرِيۡنَ ۚ ﴿۳۱﴾فَاَرۡسَلۡنَا فِيۡهِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡهُمۡ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰهَ مَا لَـكُمۡ مِّنۡ اِلٰهٍ غَيۡرُهٗ ؕ اَفَلَا تَتَّقُوۡنَ﴿۳۲﴾وَقَالَ الۡمَلَاُ مِنۡ قَوۡمِهِ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا وَكَذَّبُوۡا بِلِقَآءِ الۡاٰخِرَةِ وَاَتۡرَفۡنٰهُمۡ فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ۙ مَا هٰذَاۤ اِلَّابَشَرٌ مِّثۡلُكُمۡ ۙ يَاۡكُلُ مِمَّا تَاۡكُلُوۡنَ مِنۡهُ وَيَشۡرَبُ مِمَّا تَشۡرَبُوۡنَ﴿۳۳﴾وَلَٮِٕنۡ اَطَعۡتُمۡ بَشَرًا مِّثۡلَـكُمۡ اِنَّكُمۡ اِذًا لَّخٰسِرُوۡنَۙ ﴿۳۴﴾اَيَعِدُكُمۡ اَنَّكُمۡ اِذَا مِتُّمۡ وَكُنۡتُمۡ تُرَابًا وَّعِظَامًا اَنَّكُمۡ مُّخۡرَجُوۡنَ﴿۳۵﴾هَيۡهَاتَ هَيۡهَاتَ لِمَا تُوۡعَدُوۡنَ﴿۳۶﴾اِنۡ هِىَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنۡيَا نَمُوۡتُ وَنَحۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوۡثِيۡنَ﴿۳۷﴾اِنۡ هُوَ اِلَّا رَجُلُ اۨفۡتَـرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا وَّمَا نَحۡنُ لَهٗ بِمُؤۡمِنِيۡنَ ﴿۳۸﴾قَالَ رَبِّ انْصُرۡنِىۡ بِمَا كَذَّبُوۡنِ ﴿۳۹﴾قَالَ عَمَّا قَلِيۡلٍ لَّيُصۡبِحُنَّ نٰدِمِيۡنَۚ ﴿۴۰﴾فَاَخَذَتۡهُمُ الصَّيۡحَةُ بِالۡحَـقِّ فَجَعَلۡنٰهُمۡ غُثَآءًۚ فَبُعۡدًا لِّـلۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَ ﴿۴۱﴾ثُمَّ اَنۡشَاۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِهِمۡ قُرُوۡنًا اٰخَرِيۡنَؕ ﴿۴۲﴾مَا تَسۡبِقُ مِنۡ اُمَّةٍ اَجَلَهَا وَمَا يَسۡتَـاۡخِرُوۡنَؕ ﴿۴۳﴾ثُمَّ اَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا تَتۡـرَا ؕ كُلَّ مَا جَآءَ اُمَّةً رَّسُوۡلُهَا كَذَّبُوۡهُ فَاَتۡبَـعۡنَا بَعۡـضَهُمۡ بَعۡـضًا وَّجَعَلۡنٰهُمۡ اَحَادِيۡثَ ۚ فَبُـعۡدًا لِّـقَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۴۴﴾
Artinya :
30. Sesungguhnya pada itu benar-benar terdapat beberapa tanda , dan sesungguhnya Kami menimpakan azab .
31. Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain .
32. Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri : "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa .
33. Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: " ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.
34. Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar orang-orang yang merugi.
35. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan ?,
36. jauh, jauh sekali apa yang diancamkan kepada kamu itu,
37. kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi,
38. Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya".
39. Rasul itu berdo'a: "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku."
40. Allah berfirman: "Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal."
41. Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.
42. Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain .
43. Tidak sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak mereka terlambat .
44. Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain . Dan Kami jadikan mereka buah tutur , maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.
Tafsir ayat :
030. (Sesungguhnya pada kejadian itu) kisah Nabi Nuh dan bahteranya serta dibinasakan-Nya orang-orang kafir (benar-benar terdapat beberapa tanda) yang menunjukkan kepada kekuasaan Allah swt. (dan sesungguhnya) huruf In di sini adalah bentuk Takhfif daripada Inna, sedangkan isimnya adalah Dhamir Sya'an, bentuk asalnya adalah Innahu yakni sesungguhnya hal itu (Kamilah yang mencoba mereka) menguji kaum Nuh dengan mengutus Nuh kepada mereka supaya Nuh memberi nasihat dan pelajaran kepada mereka.
Sesungguhnya pemaparan kisah-kisah da’i pada surah ini bukanlah dalam bentuk penyelidikan yang terperinci. Tujuan pokoknya hanyalah untuk menetapkan kalimat yang satu yang dibawa oleh semua rasul, dan pemaparan jawaban yang sama dari kaum mereka. Oleh karena itu diawali dengan menyinggung tentang Nuh untuk menentukan titik tolak pertama, kemudian berakhir di musa dan isa untuk menentukan titik terakhir sebelum datangnya risalah pamungkas terakhir.
031. (Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat) kaum (yang lain) mereka adalah kaum Ad.
032. (Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri) yaitu Nabi Hud ("Hendaklah) ia mengatakan kepada mereka (kalian menyembah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Mengapa kalian tidak bertakwa) takut kepada azab-Nya karenanya kalian harus beriman kepada-Nya.
033. (Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat) yakni tempat mereka kembali kelak (dan yang telah Kami mewahkan mereka) Kami berikan nikmat kepada mereka (dalam kehidupan di dunia, 'Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, dia makan dari apa yang kalian makan dan minum dari apa yang kalian minum').
034. (Dan) demi Allah (sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kalian) di dalam ayat ini terkandung makna Qasam atau sumpah dan Syarat, sedangkan Jawab dari Syarat tersebut terkandung pada ayat selanjutnya (niscaya bila demikian, kalian benar-benar) yakni jika kalian menaatinya (menjadi orang-orang yang merugi") mendapat kerugian.
035. ("Apakah ia menjanjikan kepada kalian, bahwa bila kalian telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang, kalian se
sungguhnya akan dikeluarkan dari kuburan kalian) lafal Mukhrajuuna merupakan Khabar dari Annakum yang pertama, sedangkan lafal Annakum yang kedua berfungsi mengukuhkan makna Annakum yang pertama tadi, disebutkan lagi karena panjangnya Fashl atau pemisah antara Khabar dan 'Amilnya.
036. (Jauh, jauh sekali) lafal Haihaata Haihaata adalah Isim Fi'il Madhi yang bermakna Mashdar, artinya jauh, jauh sekali dari kebenaran (apa yang diancamkan kepada kalian itu) yaitu dihidupkannya kembali kalian dari kuburan. Huruf Lam pada lafal Limaa Tuu'aduna adalah Lam Zaidah yang mengandung makna Bayan atau penjelasan.
037. (Tiada lain hal itu) yakni kehidupan yang sesungguhnya (hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati kemudian kita hidup) yaitu dengan hidupnya anak-anak kita (dan sekali-kali kita tidak akan dibangkitkan kembali).
038. (Ia tiada lain) Rasul itu (hanyalah seorang laki-laki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya") tidak akan percaya dengan adanya berbangkit sesudah mati.
039. (Rasul itu berdoa, "Ya Rabbku! Tolonglah aku karena mereka mendustakanku").
040. (Allah berfirman, "Dalam sedikit waktu lagi) sebentar lagi. Huruf Ma di sini adalah Zaidah (pasti mereka akan menjadi) akan menjadi orang-orang (yang menyesal") atas kekafiran dan kedustaan mereka.
041. (Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur) suara yang menandakan turunnya azab dan binasanya makhluk (dengan hak) maka matilah mereka (dan Kami jadikan mereka bagaikan tumbuh-tumbuhan yang kering) Kami jadikan mereka seperti tanaman yang kering atau mati (maka alangkah jauhnya) dari rahmat (bagi orang-orang yang zalim itu) yakni orang-orang yang mendustakan Rasul itu.
042. (Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat) kaum-kaum (yang lain).
043. (Tidak dapat sesuatu umat pun mendahului ajalnya) seumpamanya mereka mati sebelum ajal mereka (dan tidak dapat pula mereka terlambat) dari ajalnya itu. Lafal Yasta'khiruna dalam bentuk jamak dikaitkan kepada lafal Ummatin yang bentuknya muannats, hal ini memandang dari segi maknanya, karena ummatin berarti jamak.
044. (Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut) lafal Tatran dapat pula dibaca Tatraa tanpa memakai harakat Tanwin, artinya berturut-turut yang di antara kedua rasul terdapat pemisah jarak waktu yang cukup lama. (Manakala datang kepada suatu umat) lafal Jaa-a Ummatan dapat dibaca Jaa-a ummatan yakni dengan mentashhilkan huruf Hamzah yang kedua, sehingga ucapannya seolah-olah ada huruf Wau (Rasul, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain) Kami samakan mereka dengan umat-umat terdahulu dalam hal terbinasa (dan Kami jadikan mereka buah tutur manusia maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman).
Pelajaran etika seorang da’i yang dapat saya petik dari ayat diatas adalah diantaranya :
- Seorang dai wajib menjadikan tauhid sebagai seruan pertamanya kepada setiap mad’unya yang belum beriman, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh setiap nabi dan rasul dari yang pertama sampai dengan yang terakhir. Mereka semua bersatu dalam satu seruan yang agung yaitu “ Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada tuhan selain dari pada-Nya”.
- Hal yang kedua yang saya rasa adalah sebuah bentuk etika seorang da’i yang terkandung dalam ayat-ayat di atas adalah seorang da’i seyogyanya memulai berdakwah dari orang-orang terdekat dan lingkungan/kaumnya terlebih dahulu baru kemudian berdakwah kepada lingkungan/kaum yang lain, sebagaimana setiap rasul diutus dari suatu kaum untuk berdakwah dan memperbaiki kaumnya sendiri.
- Seorang da’i harus selalu berdo’a memohon pertolongan Allah dalam usaha dakwahnya karena dia tidak memiliki daya dan upaya untuk merubah atau memperbaiki suatu kaum tanpa ada pertolongan dari allah dan kemudahan dari-Nya, dan seyogyanya da’i tidak mudah berputus asa di dalam dakwahnya dan lantas mendo’akan kehancuran kepada kaumnya padahal masih ada kemungkinan dari kaumnya untuk menerima seruan dakwahnya dan dan dia pun belum benar-benar maksimal dalam berdakwah.
Kesimpulan dari paparan di atas adalah seorang da’i sudah seharusnya beretika sebagaimana –etika-etika seorang da’i yang baik yang telah diajarkan oleh al-Qur’an dan sunnah nabi. Pelajaran etika yang dapat dipetik dari beberapa ayat diatas sebagaimana yang mampu saya rangkum adalah sebagai berikut :
- Seorang da’i dalam berdakwah harus selalu berserah diri dan pasrah kepada Allah SWT (QS. Fushsilat : 33).
- Seorang da’i dituntut memiliki sifat sabar (QS. Fussilat : 35).
- Seorang da’i harus selalu berusaha membalas keburukan mad’unya dengan dengan kebaikan (QS. Fussilat : 34).
- Seorang da’i harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk (QS. Fussilat : 36).
- Seorang da’i harus mengerjakan apa-apa yang dikatakannya atau dengan kata lain ia harus mengamalkan terlebih dahulu apa yang akan ia dakwahkan baru mendakwahkannya kepada orang lain (QS. As-Shoff : 2-3).
- Seorang da’i wajib menjadikan Tauhid sebagai seruan pertamanya kepada mad’unya yang belum beriman (QS. Al-Mu’minuun : 32).
- Seorang da’i seyogyanya berdakwah pada orang-orang terdekat dan lingkungannya terlebih dahulu sebelum berdakwah kepada lingkungan yang lain (QS. Al-Mu’minuun : 32 ).
- Seorang da’i harus selalu berdo’a memohon pertolongan kepada Allah dalam usaha dakwahnya agar Allah memberikannya pertolongan dan kemudahan (QS. Al-Mu’minuun : 39).
Demikian etika seorang da’i yang berhasil saya rangkum dari ayat-ayat di atas yaitu Al-Qur’an surah Fussilat ayat 33-39, As-Shoff ayat 2-3, dan surah Al-Mu’minuun ayat 30-44. Semoga kita semua bisa memantapkan diri kita untuk mengkondisikan dan menghiasi diri kita dengan etika-etika di atas sehingga kita bisa menjadi seorang da’i yang baik, da’i yang dengan sangat gigih dan getolnya mendakwahkan dan menyebarkan syiar islam, da’i yang berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan penuh keikhlasan untuk meninggikan kalimat “laailaaha illallah”, da’i yang berani seperti singa namun lembut bagaikan sutra, di hormati oleh kawan dan di segani oleh lawan dan termasuk kedalam orang-orang yang allah kategorikan sebagai orang yang beruntung, AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIIN.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar